Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Indonesia Terancam Gempa Megathrust, Ahli BRIN Ungkap Fakta Risiko dan Cara Selamat dari Bencana Alam

M Robit Bilhaq • Minggu, 2 November 2025 | 03:00 WIB
ilustrasi gempa megathrust
ilustrasi gempa megathrust

RADARTUBAN – Isu potensi gempa megathrust yang mengancam wilayah Indonesia kembali menjadi perhatian publik.

Para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan hasil riset terbaru mengenai ancaman gempa besar tersebut, yang berpotensi memicu tsunami dahsyat di sejumlah wilayah.

Meski belum ada tanda-tanda gempa besar terjadi di beberapa area, para ahli memperingatkan bahwa hal itu bukan berarti wilayah tersebut aman.

Justru area seperti ini disebut sebagai seismic gap, yaitu daerah yang belum melepaskan energi seismik dalam waktu lama dan berpotensi mengalami gempa besar kapan saja.

“Hasil riset yang telah banyak dilakukan dapat berkontribusi dalam upaya pengurangan risiko gempa,” ujar Nuraini Rahma Hanifa, Peneliti Ahli Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Jumat (31/10).

“Megathrust beserta potensi gempanya adalah nyata, tetapi hal ini merupakan bagian dari fenomena alam yang harus dihadapi dengan adaptasi dan mitigasi,” imbuhnya.

Baca Juga: Waspada Megathrust! Ancaman ‘Raksasa Bawah Laut’ Bisa Guncang Indonesia, Ini Zona Paling Rawan dan Cara Selamatkan Diri

Apa Itu Megathrust?

Megathrust merupakan zona tumbukan antar lempeng tektonik raksasa yang membentang hingga ribuan kilometer.

Di Indonesia, salah satu zona megathrust utama berada di selatan Pulau Jawa, membentang sepanjang ±1.000 kilometer dengan lebar sekitar 200 kilometer dan kedalaman mencapai 60 kilometer.

Zona ini terus menyimpan energi besar yang sewaktu-waktu dapat dilepaskan. BRIN menjelaskan, ukuran bidang megathrust di bawah Jawa bahkan setara dengan luas Pulau Jawa sendiri.

Apabila bidang tersebut bergeser sejauh 20 meter secara bersamaan, maka guncangan yang dihasilkan akan sangat besar dan berpotensi menimbulkan bencana gempa dan tsunami besar.

Lempeng Indo–Australia diketahui terus bergerak menukik ke arah utara, menekan lempeng benua di atasnya. Titik pertemuan kedua lempeng inilah yang menjadi sumber utama megathrust.

Pentingnya Adaptasi dan Edukasi Masyarakat

Menurut Nuraini Rahma, pengetahuan masyarakat mengenai megathrust perlu terus ditingkatkan.

Ia menekankan bahwa fenomena ini bukan untuk ditakuti, melainkan dipahami dan dihadapi dengan kesiapsiagaan yang baik.

“Tanpa pengetahuan dan kesiapan yang memadai, risiko bencana akan semakin besar. Edukasi menjadi kunci agar masyarakat bisa beradaptasi dan bertindak cepat saat bencana terjadi,” jelasnya.

Indonesia, sebagai negara yang berada di cincin api Pasifik (Ring of Fire), memang berada di kawasan rawan gempa dan tsunami. Oleh sebab itu, mitigasi dan adaptasi menjadi langkah yang tidak bisa ditunda lagi.

Panduan Mitigasi Gempa Menurut BNPB

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui buku “Tanggap Tangkas Tangguh Menghadapi Bencana” memberikan panduan praktis menghadapi gempa bumi.

1. Sebelum Gempa Terjadi

2. Saat Gempa Terjadi

3. Setelah Gempa Terjadi

Langkah Mitigasi Tsunami

1. Sebelum Tsunami Terjadi

2. Saat Tsunami Terjadi

3. Setelah Tsunami Terjadi

Gempa megathrust adalah ancaman nyata, tetapi bukan berarti tidak dapat dihadapi. Kuncinya terletak pada kesiapsiagaan, edukasi, dan disiplin mitigasi.

Dengan pemahaman dan latihan yang rutin, masyarakat bisa meminimalkan risiko dan menyelamatkan diri ketika bencana benar-benar datang. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#gempa megathrust #tsunami #BRIN #mitigasi bencana