RADARTUBAN – Isu potensi gempa megathrust yang mengancam wilayah Indonesia kembali menjadi perhatian publik.
Para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan hasil riset terbaru mengenai ancaman gempa besar tersebut, yang berpotensi memicu tsunami dahsyat di sejumlah wilayah.
Meski belum ada tanda-tanda gempa besar terjadi di beberapa area, para ahli memperingatkan bahwa hal itu bukan berarti wilayah tersebut aman.
Justru area seperti ini disebut sebagai seismic gap, yaitu daerah yang belum melepaskan energi seismik dalam waktu lama dan berpotensi mengalami gempa besar kapan saja.
“Hasil riset yang telah banyak dilakukan dapat berkontribusi dalam upaya pengurangan risiko gempa,” ujar Nuraini Rahma Hanifa, Peneliti Ahli Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Jumat (31/10).
“Megathrust beserta potensi gempanya adalah nyata, tetapi hal ini merupakan bagian dari fenomena alam yang harus dihadapi dengan adaptasi dan mitigasi,” imbuhnya.
Apa Itu Megathrust?
Megathrust merupakan zona tumbukan antar lempeng tektonik raksasa yang membentang hingga ribuan kilometer.
Di Indonesia, salah satu zona megathrust utama berada di selatan Pulau Jawa, membentang sepanjang ±1.000 kilometer dengan lebar sekitar 200 kilometer dan kedalaman mencapai 60 kilometer.
Zona ini terus menyimpan energi besar yang sewaktu-waktu dapat dilepaskan. BRIN menjelaskan, ukuran bidang megathrust di bawah Jawa bahkan setara dengan luas Pulau Jawa sendiri.
Apabila bidang tersebut bergeser sejauh 20 meter secara bersamaan, maka guncangan yang dihasilkan akan sangat besar dan berpotensi menimbulkan bencana gempa dan tsunami besar.
Lempeng Indo–Australia diketahui terus bergerak menukik ke arah utara, menekan lempeng benua di atasnya. Titik pertemuan kedua lempeng inilah yang menjadi sumber utama megathrust.
Pentingnya Adaptasi dan Edukasi Masyarakat
Menurut Nuraini Rahma, pengetahuan masyarakat mengenai megathrust perlu terus ditingkatkan.
Ia menekankan bahwa fenomena ini bukan untuk ditakuti, melainkan dipahami dan dihadapi dengan kesiapsiagaan yang baik.
“Tanpa pengetahuan dan kesiapan yang memadai, risiko bencana akan semakin besar. Edukasi menjadi kunci agar masyarakat bisa beradaptasi dan bertindak cepat saat bencana terjadi,” jelasnya.
Indonesia, sebagai negara yang berada di cincin api Pasifik (Ring of Fire), memang berada di kawasan rawan gempa dan tsunami. Oleh sebab itu, mitigasi dan adaptasi menjadi langkah yang tidak bisa ditunda lagi.
Panduan Mitigasi Gempa Menurut BNPB
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui buku “Tanggap Tangkas Tangguh Menghadapi Bencana” memberikan panduan praktis menghadapi gempa bumi.
1. Sebelum Gempa Terjadi
- Lakukan latihan penyelamatan diri seperti merunduk, melindungi kepala, dan berlindung di bawah meja.
- Siapkan perlengkapan darurat seperti alat pemadam api, P3K, dan obat-obatan penting.
- Bangun rumah dengan struktur tahan gempa dan patuhi tata ruang di wilayah rawan.
2. Saat Gempa Terjadi
- Segera cari tempat perlindungan, misalnya di bawah meja yang kuat.
- Hindari penggunaan lift, dan gunakan tangga darurat untuk evakuasi.
- Setelah aman, segera keluar bangunan dan waspadai benda jatuh seperti kaca atau genteng.
3. Setelah Gempa Terjadi
- Tetap waspada terhadap gempa susulan.
- Periksa sumber api atau kebocoran gas.
- Berada di area terbuka dan hindari lokasi rawan longsor atau reruntuhan.
Langkah Mitigasi Tsunami
1. Sebelum Tsunami Terjadi
- Kenali tanda-tanda awal tsunami, seperti air laut surut drastis.
- Pahami jalur evakuasi tercepat menuju dataran tinggi.
- Jika ada peringatan resmi, segera menuju tempat yang lebih tinggi tanpa menunggu konfirmasi tambahan.
2. Saat Tsunami Terjadi
- Ajak keluarga segera mengungsi dengan tenang namun cepat.
- Hindari mendekati pantai, jembatan, atau sungai.
- Setelah berada di lokasi aman, jangan langsung kembali ke rumah karena gelombang susulan bisa lebih besar.
3. Setelah Tsunami Terjadi
- Hindari wilayah yang masih tergenang air atau rusak parah.
- Jangan menyentuh kabel listrik atau instalasi gas yang rusak.
- Tunggu pengumuman resmi dari pihak berwenang sebelum kembali ke rumah.
Gempa megathrust adalah ancaman nyata, tetapi bukan berarti tidak dapat dihadapi. Kuncinya terletak pada kesiapsiagaan, edukasi, dan disiplin mitigasi.
Dengan pemahaman dan latihan yang rutin, masyarakat bisa meminimalkan risiko dan menyelamatkan diri ketika bencana benar-benar datang. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni