Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Perusahaan E-Commerce China Makin Cepat Jajah Asia Tenggara, Apakah Indonesia Termasuk?

M Robit Bilhaq • Minggu, 2 November 2025 | 04:05 WIB

 

ilustrasi e commers asal china
ilustrasi e commers asal china

RADARTUBAN – Raksasa e-commerce asal China semakin agresif memperluas pengaruhnya di pasar internasional, terutama di kawasan Asia Tenggara.

Platform besar seperti Alibaba, TikTok Shop, Shein, dan Temu kini menjadi kekuatan utama yang menguasai hampir setengah dari total pasar belanja online di kawasan ini.

Menurut laporan terbaru dari Bain & Company, gelombang ekspansi perusahaan e-commerce asal Tiongkok tidak hanya menunjukkan kekuatan ekonomi digital negara tersebut, tetapi juga menandai pergeseran dominasi dari pemain lokal ke pemain global.

“Jauh dari ‘terbunuh’ oleh tarif AS, pendekatan ritel China untuk menggarap pasar global justru memasuki fase baru,” tulis Bain & Company dalam laporannya, Jumat (31/10).

Baca Juga: Penerapan Pajak E-commerce Ditunda hingga Pertumbuhan Ekonomi Capai 6 Persen

Gelombang Ekspansi Global dari Negeri Tirai Bambu

Perusahaan e-commerce asal China seperti Shein dan Temu (PDD Holdings) dilaporkan menyumbang hampir 50% dari total pasar e-commerce di negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Thailand, dan Filipina pada tahun 2024.

Fenomena ini tidak lepas dari perlambatan pertumbuhan ekonomi di dalam negeri China, yang mendorong perusahaan untuk mencari pasar baru di luar negeri.

Kawasan Asia Tenggara menjadi pilihan utama karena memiliki populasi besar, tingkat penggunaan internet tinggi, dan pertumbuhan ekonomi digital yang cepat.

Bain & Company menilai bahwa perusahaan China lebih unggul di negara dengan daya beli relatif rendah, karena mereka mampu menawarkan harga produk yang kompetitif dengan dukungan rantai pasok dan efisiensi produksi yang tinggi.

Indonesia Jadi Pasar Potensial dan Kompetitif

Indonesia menjadi salah satu medan tempur utama bagi para pemain e-commerce global.

Sepanjang tahun 2024, nilai total transaksi digital atau Gross Merchandise Value (GMV) di sektor e-commerce Indonesia mencapai US$62 miliar atau sekitar Rp1.031 triliun.

Dari angka tersebut, sekitar 56% atau US$34,58 miliar (Rp572 triliun) berasal dari kategori e-commerce non-platform besar. Namun, pangsa pasar utama tetap dikuasai oleh pemain besar berikut:

Data tersebut memperlihatkan bahwa meskipun pemain lokal seperti Tokopedia masih mendominasi, e-commerce asal China terus memperluas pengaruhnya secara cepat, terutama melalui strategi promosi agresif dan integrasi sosial media.

Strategi Agresif: Harga Murah dan Integrasi Sosial Media

Kesuksesan TikTok Shop dan Shein di pasar Asia Tenggara tidak lepas dari kombinasi strategi pemasaran digital, pengaruh influencer, dan pengalaman belanja interaktif.

TikTok Shop, misalnya, memanfaatkan kekuatan konten video pendek dan algoritma personalisasi untuk mendorong penjualan. Sementara Shein menggunakan big data dan produksi cepat (fast fashion) untuk menghadirkan tren baru dalam hitungan minggu.

Strategi ini membuat produk asal China lebih menarik bagi konsumen muda di Indonesia dan negara tetangga, yang cenderung mencari produk terjangkau dengan gaya modern.

Posisi Pemain Lokal Masih Bertahan, Tapi Terancam

Menariknya, laporan Bain & Company juga mencatat bahwa beberapa pemain lokal seperti Shopee, Blibli, dan Bukalapak tidak dimasukkan ke dalam kategori terpisah dalam analisis mereka. Hal ini karena pangsa pasarnya mulai tertekan oleh ekspansi besar-besaran perusahaan Tiongkok.

Kendati demikian, dominasi e-commerce asal China di Indonesia belum sepenuhnya terjadi. Tokopedia dan Shopee masih menjadi pemain utama yang menguasai transaksi domestik. Namun, dengan tren investasi dan strategi ekspansi yang masif, pengaruh Tiongkok diprediksi akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

Dominasi di Asia Tenggara Semakin Meluas

Di luar Indonesia, platform seperti TikTok Shop dan AliExpress juga memperlihatkan pertumbuhan pesat. Di Thailand, kontribusi TikTok Shop terhadap GMV mencapai 19%, sementara di Vietnam dan Filipina masing-masing 15%.
AliExpress pun tumbuh dengan pangsa 7% di Filipina dan 5% di Vietnam.

Meski begitu, Indonesia tetap menjadi pasar terbesar di kawasan, dengan nilai transaksi e-commerce tertinggi dan tingkat pertumbuhan yang stabil. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai fokus utama ekspansi e-commerce Tiongkok dalam beberapa tahun mendatang.

Ekspansi perusahaan e-commerce asal China menjadi tanda nyata dari pergeseran peta kekuatan digital global. Meski Indonesia masih memiliki pemain lokal kuat, tren jangka panjang menunjukkan bahwa dominasi pasar digital Asia Tenggara akan semakin bergeser ke tangan raksasa Tiongkok.

Dengan strategi agresif, dukungan modal besar, dan inovasi teknologi, perusahaan seperti Alibaba, TikTok Shop, dan Shein bisa saja mengubah lanskap e-commerce Indonesia dalam waktu dekat.

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#tarif AS #asia tenggara #e-commece #tiktok shop #temu #Shein #China #alibaba