Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kemensos Jadikan Sekolah Rakyat Model Aman Bencana: SRMA 14 Bandung Barat Jadi Percontohan Nasional

Tulus Widodo • Kamis, 6 November 2025 | 23:07 WIB

 

SRMA 14 Bandung Barat resmi jadi model nasional Sekolah Rakyat Aman Bencana.
SRMA 14 Bandung Barat resmi jadi model nasional Sekolah Rakyat Aman Bencana.

RADARTUBAN – Tak sekadar tempat belajar, Sekolah Rakyat kini disiapkan jadi ruang tangguh menghadapi bencana.

Kementerian Sosial (Kemensos) RI melalui Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Bandung resmi menjadikan Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 14 Kabupaten Bandung Barat sebagai model nasional Sekolah Rakyat Aman Bencana (SRAB).

Langkah ini dimulai lewat Simulasi SRAB yang digelar dua hari, Selasa–Rabu (4–5/11).

Kegiatan ini menjadi momentum penting setelah Menteri Sosial Saifullah Yusuf menandatangani Panduan Pelaksanaan Sekolah Rakyat Aman Bencana (PPSRAB) beberapa waktu lalu.

Kepala BBPPKS Bandung Iyan Kusumadiana menegaskan, kegiatan ini bukan seremonial semata, melainkan bentuk pembelajaran nyata bagi siswa dan pengelola sekolah.

“Kami ingin memastikan ketika bencana terjadi, seluruh civitas Sekolah Rakyat mampu bertindak cepat, tenang, dan sesuai prosedur penyelamatan. Kesiapan adalah kunci untuk meminimalkan risiko korban,” tegas Iyan dikutip dari laman kemensos.go.id.

Sekolah Percontohan Nasional

SRMA 14 ditunjuk sebagai pilot project karena dinilai siap secara infrastruktur dan SDM.

Nantinya, konsep SRAB ini akan direplikasi di 166 titik Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia, terutama di daerah rawan gempa, banjir, longsor, dan kebakaran.

Indonesia dikenal sebagai negara dengan risiko bencana tinggi. Karena itu, Kemensos menilai sektor pendidikan harus ikut beradaptasi. Sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga wadah membangun budaya sadar risiko.

Sebagai jawaban atas tantangan itu, Kemensos bersama berbagai mitra strategis seperti BNPB, BMKG Bandung, Unicef, Rumah Zakat, YKMI, IPSPI, YABI, DMC Dompet Dhuafa, Tagana, dan MPBI menyusun Panduan SRAB yang berisi langkah-langkah praktis untuk pemetaan bahaya, penilaian risiko, serta penanganan darurat.

Dari Simulasi Jadi Budaya Aman

Simulasi di Bandung Barat berlangsung realistis. Dimulai dengan safety briefing, peserta menghadapi skenario gempa yang memicu kebakaran, melakukan evakuasi mandiri, hingga membangun shelter darurat.

Tak hanya itu, peserta juga diajak berlatih koordinasi layanan psikososial, logistik, pemadaman api, dan pertolongan pertama.

Perwakilan Basarnas yang hadir mengapresiasi simulasi ini karena berhasil menggambarkan koordinasi lintas instansi secara nyata.

Sementara tim penilai dari BPBD, Damkar, Puskesmas Jayagiri, TNI–Polri, dan Dinas Sosial turut memberikan catatan teknis untuk penyempurnaan jalur evakuasi dan kesiapan alat komunikasi darurat.

“Kolaborasi ini membuat simulasi terasa hidup dan mendidik. Tidak hanya teori, tapi langsung praktik di lapangan,” ujar salah satu penilai dari BPBD.

Kegiatan kemudian ditutup dengan demo penggunaan APAR, edukasi P3K, dan pemeriksaan kesehatan bagi seluruh peserta.

Bangun Budaya Siaga di Sekolah

Simulasi SRAB ini menjadi tahapan kedelapan dari rangkaian kegiatan kesiapsiagaan sejak September 2025.

Tahapan itu meliputi diskusi lintas pemangku kepentingan, penyusunan panduan, sosialisasi, pemetaan risiko, bimbingan teknis, koordinasi terpadu, gladi bersih, hingga simulasi penyelamatan.

Kemensos berharap, ke depan setiap Sekolah Rakyat memiliki protokol siaga bencana sendiri, lengkap dengan peta risiko dan jalur evakuasi yang jelas.

Sebab, seperti disampaikan Iyan Kusumadiana, bencana tidak bisa dihindari — tapi kesiapsiagaan bisa dipelajari. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#simulasi SRAB #SRMA 14 Bandung Barat #kemensos #Panduan Pelaksanaan Sekolah Rakyat Aman Bencana