Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Megawati Jelaskan Tentang Teknologi Kecerdasan Buatan AI Untuk Masyarakat Indonesia, Berikut Penjelasannya

M Robit Bilhaq • Jumat, 7 November 2025 | 12:05 WIB

 

Megawati menilai AI dan big data bisa jadi bentuk baru kolonialisme modern.
Megawati menilai AI dan big data bisa jadi bentuk baru kolonialisme modern.

RADARTUBAN - Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat telah mendorong banyak orang untuk teknologi tersebut, baik dalam urusan pekerjaan maupun aktivitas sehari-hari.

Namun, Ketua Umum PDI Perjuangan sekaligus Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, mengingatkan kepada seluruh generasi muda untuk tidak tergila gila dengan teknologi tersebut.

Dalam pidatonya pada seminar internasional memperingati 70 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) yang digelar di Perpustakaan Bung Karno, Blitar, Jawa Timur, Megawati mengatakan bahwa kemajuan AI tidak boleh mengikis nilai-nilai kemanusiaan.

Megawati menyampaikan bahwa kecerdasan buatan tidak dapat menggantikan kemampuan manusia yang menurutnya merupakan anugerah langsung yang diberikan dari Tuhan.

Megawati mengajak anak-anak muda untuk tetap menjaga keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan, serta tidak kehilangan jati diri di tengah arus digitalisasi yang semakin kuat.

"Jadi saya bilang begini, menyimpang sedikit, supaya semua itu jangan terperangah melihat AI, AI, AI. Saya bilang kok jadi lupa ya, the best mind for me is my brain because this is from The God. Jadi enggak bisa digantikan. Jadi waktu itu saya bilang, ini bukan mainan saya," kata Megawati.

Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menyampaikan keprihatinannya terkait teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mengalami perkembangan dengan begitu cepat yang dinilainya berpotensi merusak.

Dalam seminar internasional memperingati 70 tahun Konferensi Asia Afrika di Blitar, Jawa Timur, Megawati mengingatkan generasi muda agar tidak terlalu terbuai oleh kecanggihan AI tersebut.

Menurut Megawati, AI tidak bisa menggantikan manusia karena kemampuan intuitif dan perasaan manusia adalah anugerah dari Tuhan.

Dia juga menekankan bahwa ilmu pengetahuan memiliki batas, dan teknologi tidak seharusnya membuat manusia kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.

"Sekarang saja saya melihat kecenderungan AI itu lebih banyak kepada sesuatu yang bisa merusak. Jadi menurut saya, keilmuan itu juga ada batasnya. Saya mohon anak-anak muda jangan tergila-gila dengan AI, karena apa pun juga, feeling kita ini datangnya dari Allah, dari God. Saya belum pernah dengar loh, tetap manusia yang harus membetulkan robot. Jadi jangan terlalu melambung ke udara. Itu supaya kita punya kemanusiaan," ujarnya.

Selain itu, Megawati menyoroti perubahan bentuk penjajahan di era modern, Jika dahulu dominasi dilakukan melalui kekuatan militer seperti meriam dan kapal perang, kini bentuknya lebih halus namun tak kalah berbahaya yaitu seperti melalui algoritma, data, dan kendali ekonomi digital.

Megawati menyebut fenomena ini sebagai bentuk baru kolonialisme, yakni “neo-kolonialisme digital,” yang diperkuat oleh kehadiran AI, big data, dan sistem keuangan berbasis lintas data.

Megawati mengingatkan bahwa jika tidak dikendalikan dengan bijak teknologi dapat disalahgunakan dan berujung pada kerugian besar bagi seluruh manusia.

Megawati mengajak semua pihak, terutama generasi muda, untuk tetap kritis dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah arus digitalisasi global yang semakin kuat. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Era digital #AI #kecerdasan buatan #Ketua Umum PDI Perjuangan