Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Lamine Yamal Dianggap ‘Bad Boy Baru’, Barcelona Diminta Tiru Ketegasan Era Guardiola

Imanda Najwa Kirana Dewi • Sabtu, 8 November 2025 | 00:30 WIB
Lamine Yamal ikut jadi sorotan setelah Barcelona menelan kekalahan di El Clásico.
Lamine Yamal ikut jadi sorotan setelah Barcelona menelan kekalahan di El Clásico.

RADARTUBAN – Dunia sepak bola Eropa kembali dipenuhi drama, kontroversi, dan perdebatan panas.

Dalam podcast terbaru di kanal YouTube Kemal Palevi, dua figur yang aktif sebagai komentator sepak bola.

Kemal Palevi dan Randi Setya, membedah isu-isu besar yang sedang mengguncang Barcelona, Liverpool, hingga perdebatan tak berkesudahan soal era Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, dan Kylian Mbappé.

Berlangsung informal namun penuh analisis, obrolan ini memantik perhatian pencinta sepak bola karena membahas aspek tidak hanya teknis, tetapi juga mentalitas pemain muda, tata kelola klub, hingga dinamika emosional di era bintang sepak bola global.

Baca Juga: Sering Dikaitkan, PSG Akui Tak Tertarik Rekrut Lamine Yamal dari Barcelona

Barcelona Kehilangan “Nyawa”, Yamal Jadi Sorotan

Kekalahan Barcelona 1–2 dari Real Madrid dalam laga El Clasico pada 26 Oktober 2025 menjadi pemicu utama diskusi.

Kegagalan Blaugrana mempertahankan keunggulan membuat Madrid kini unggul dengan 106 kemenangan berbanding 104 dalam sejarah pertemuan kedua tim.

Menurut Randi Setya, kekalahan ini bukan sekadar hasil pertandingan, melainkan gambaran krisis yang lebih dalam.

“Secara teknis, kekalahan ini wajar karena Barcelona kehilangan tujuh pemain inti akibat cedera. Tapi masalah terbesarnya bukan cedera, melainkan sistem pertahanan yang kacau,” ujarnya.

Randi menyoroti offside trap Barcelona yang musim ini dianggap tidak efektif, berbeda jauh dari musim sebelumnya.

Absennya Iñigo Martínez disebut menjadi salah satu penyebab rapuhnya lini belakang.

Kemal Palevi menambahkan faktor lain yang dianggap lebih fatal: hilangnya remontada spirit atau semangat comeback Barcelona.

“Cederanya Raphinha bikin nyawa Barcelona hilang. Dia penting karena bikin lini depan fleksibel dan bisa rotasi. Marcus Rashford yang menggantikannya enggak punya kemampuan itu,” jelas Kemal.

Pada titik ini, perhatian mulai mengarah pada mentalitas tim—khususnya satu nama: Lamine Yamal.

Yamal, yang digadang-gadang sebagai “wajah masa depan Barcelona”, kini justru menjadi pusat kritik.

Pasca El Clásico, performanya disebut menurun drastis, bahkan dikabarkan hanya 70 persen bugar.

Namun yang dikhawatirkan bukan sekadar kondisi fisiknya, melainkan gaya hidup dan sikapnya di luar lapangan.

Kemal menilai Yamal sedang berada dalam fase “terjebak ketenaran”.

“Dia kelihatan kayak lagi pengen membuktikan sisi bad boy ke teman atau pacarnya.

Baca Juga: Sering Dikaitkan, PSG Akui Tak Tertarik Rekrut Lamine Yamal dari Barcelona

Itu masalah, karena dia enggak nyadar dirinya itu aset gede banget,” ujar Kemal.

Situasi makin pelik ketika muncul rumor bahwa ayah Yamal menekan klub untuk memprioritaskan putranya ketimbang pemain lain, seperti Raphinha.

Bagi kedua komentator ini, itu adalah alarm merah.

Randi bahkan memperingatkan Barcelona agar belajar dari sejarah.

“Kalau attitude enggak berubah, Barcelona harus siap lepas Yamal. Pep Guardiola dulu buang Ronaldinho dan Deco demi jaga Messi. Klub besar harus berani,” tegasnya.

Menurut Randi, ketegasan klub penting agar menjadi contoh bagi generasi La Masia berikutnya.

Arne Slot dan Liverpool: Awal Baru yang Belum Mulus

Isu kemudian bergeser ke Inggris. Liverpool yang kini dipimpin Arne Slot juga menjadi bahan kritik. Setelah kepergian Jürgen Klopp, banyak pihak menilai transisi The Reds tidak berjalan mulus.

Kemal Palevi bahkan menyebut Slot sebagai pelatih yang “miskin taktik”.

“Dia enggak punya kapasitas untuk meracik tim dengan pemain sekelas Liverpool. Ini bukan Feyenoord lagi, ini dunia yang beda,” tegasnya.

Namun Randi Setya memberi sudut pandang berbeda. Menurutnya, kritik terhadap Slot tidak bisa berdiri sendiri karena Liverpool kini memakai struktur kepelatihan baru.

“Slot itu head coach, bukan manajer. Tugasnya cuma ngelatih, bukan urus transfer, komunikasi, atau politik ruang ganti. Kalau kacau, artinya satu gerbong kepelatihan yang gagal.”

Laga melawan Crystal Palace disebut sebagai pertandingan penentu. Jika Liverpool kalah dari tim yang sedang tidak konsisten, desakan pemecatan Slot akan menguat. (*)

 

Editor : Yudha Satria Aditama
#Real Madrid #Cristian ronaldo #Sepak Bola #el clasico #global #Lionel Messi #Barcelona