RADARTUBAN - Banyak orang tua mengira bayi belum bisa merasakan emosi.
Padahal, menurut Daniel Goleman dalam Emotional Intelligence, justru di empat tahun pertama kehidupan, pengaturan emosi harus mulai ditanamkan. Bukan lewat kata-kata, tapi lewat perlakuan. Lewat respons. Lewat kehadiran.
Misalnya, ketika bayi tiba-tiba bangun dini hari untuk menyusu, ibu seharusnya langsung merespons dengan tenang.
Bukan dengan marah atau kesal. Karena amarah itu bisa dirasakan oleh bayi. Otot mereka menegang, tangisan makin keras, dan tidur pun terganggu. Bayi belum bisa bicara, tapi mereka bisa membaca emosi.
Baca Juga: Belajar Dewasa dari Kehilangan: Refleksi Emosional tentang Takdir dan Waktu
Respons Emosional Orang Tua Menentukan Pola Emosi Anak
Bayi mengerti sejauh mana ibunya memengaruhi emosinya. Jika pola asuh dipenuhi dengan kemarahan, penolakan, atau ketidaksabaran, maka anak bisa tumbuh dengan perasaan bahwa kebutuhannya tidak penting.
Bahwa dirinya tidak dipedulikan. Bahwa cinta itu bersyarat.
Dan dampaknya bisa panjang. Anak bisa tumbuh jadi pribadi yang sulit percaya, mudah cemas, atau merasa tidak layak dicintai.
Semua itu berakar dari tahun-tahun awal yang sering dianggap sepele.
Jadi Orang Tua Itu Tentang Belajar, Bukan Sempurna
Tidak ada orang tua yang langsung tahu cara mengatur emosi. Tapi yang penting adalah kesediaan untuk belajar. Untuk hadir dengan tenang.
Untuk merespons dengan empati. Karena bayi tidak butuh orang tua yang sempurna. Mereka butuh orang tua yang bisa memberi rasa aman.
Dan rasa aman itu dibentuk dari hal-hal kecil: pelukan saat menangis, senyuman saat bangun tidur, dan kesabaran saat mereka rewel.
Emosi Anak Dimulai dari Emosi Kita
Pengaturan emosi bukan pelajaran yang dimulai di sekolah. Ia dimulai di rumah. Di pelukan pertama. Di respons dini hari. Di cara kita memperlakukan bayi saat mereka belum bisa bicara.
Karena anak belajar emosi dari kita. Dan jika kita bisa hadir dengan tenang, mereka akan tumbuh dengan hati yang kuat. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni