RARDARTUBAN - Keberhasilan Indonesia dalam meredam radikalisme dan terorisme ternyata bersandar pada pendekatan yang unik, yakni menjadikan kearifan lokal, budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan sebagai inti dari penanggulangan.
Strategi ini diklaim mampu mengubah pandangan teroris ekstrem menjadi individu yang moderat dan kembali mencintai warisan leluhur bangsa.
Pandangan ini dipaparkan oleh Irjen Pol. Ahmad Nurwakhid, seorang perwira tinggi kepolisian yang kini menjabat Staf Khusus di Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), dalam sebuah podcast yang tayang di kanal YouTube ASISI Channel pada Jumat (8/8).
Mantan Direktur Pencegahan di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tersebut menjelaskan bahwa radikalisme sejatinya adalah virus ideologi transnasional yang disebarkan melalui manipulasi dan politisasi agama, dengan tujuan merusak fondasi bangsa.
Virus ini disebut bertujuan merusak fondasi bangsa dengan menghilangkan sejarah, menghancurkan kearifan lokal, dan menabur kebencian.
Oleh karena itu, penanganannya tidak cukup hanya dengan penegakan hukum.
Salah satu kunci keberhasilan program di Indonesia, menurut Ahmad Nurwakhid, adalah perlakuan terhadap pelaku teror.
Meskipun secara hukum mereka adalah pelaku tindak pidana, secara kemanusiaan, mereka harus dianggap sebagai korban virus ideologi.
"Mereka yang terpapar virus radikalisme kemudian menjadi teroris itu sejatinya korban," jelasnya. Pendekatan humanis dan budaya ini diyakini mampu melunakkan hati para eks-teroris yang awalnya keras dan anti-budaya.
Kisah sukses deradikalisasi dicontohkan melalui perubahan drastis seorang mantan teroris yang kini menjadi pecinta candi, yang menggambarkan betapa budaya Nusantara memiliki daya tawar yang kuat sebagai "antivirus".
Budaya dan sejarah, menurut Ahmad Nurwakhid, adalah benteng terkuat yang membuat Indonesia tetap bersatu.
Ia menekankan pentingnya Pancasila sebagai produk budaya dan agama yang mempersatukan bangsa majemuk.
Ia juga menekankan bahwa setiap warga negara wajib mengamalkan konsep moderasi atau wasatiah.
Seseorang dapat dikatakan moderat jika memenuhi lima indikator, salah satunya adalah harus akomodatif terhadap budaya, tradisi, dan kearifan lokal.
"Kalau mereka anti budaya, nah itu salah satu indikator orang radikal," tegasnya.
Untuk membentengi generasi muda dari paparan radikalisme, Ahmad Nurwakhid berpesan kepada orang tua agar aktif mengawasi konten digital anak. Ia menyarankan tiga langkah konkret
1. Tidak mencaci anak, tetapi selalu membangun optimisme.
2. Mensekolahkan anak secara sungguh-sungguh, menghilangkan dikotomi antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum.
3. Membimbing anak untuk selalu moderat dan menghindari tokoh-tokoh intoleran.
"Bimbing anak-anak kita jangan sampai mem-follow akun, channel ataupun oknum-oknum penceramah tokoh yang intoleran dan radikal," pesannya.
Dengan optimisme dan penguatan nilai-nilai budaya, Indonesia diyakini mampu menjaga persatuan dan menghadapi ancaman virus ideologi di masa depan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni