RADARTUBAN - Banyak pemilik kendaraan memilih mencampur bahan bakar Pertamax dan Pertalite sebagai upaya menghemat biaya atau karena alasan ketersediaan.
Namun, langkah ini ternyata memiliki dampak negatif serius bagi kinerja dan kondisi mesin kendaraan.
Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada, Jayan Setanuhady, menjelaskan bahwa pencampuran kedua jenis bahan bakar ini menghasilkan nilai oktan rata-rata sekitar RON 91.
Nilai oktan ini lebih rendah dibandingkan Pertamax (RON 92-95), sehingga kualitas pembakaran di mesin menurun.
Akibatnya, mesin berpotensi mengalami knocking atau ledakan prematur yang dapat menyebabkan suara kasar dan getaran berlebih.
Hal ini secara langsung mempengaruhi performa mesin dan kenyamanan pengguna kendaraan.
Tidak hanya itu, pencampuran Pertamax dan Pertalite juga dapat menimbulkan kerak di dalam mesin yang menghambat aliran bahan bakar dan udara.
Kondisi ini membuat mesin bekerja lebih berat, berisiko mengalami overheat, dan mempercepat kerusakan komponen mesin.
Efisiensi bahan bakar pun menurun, menyebabkan konsumsi menjadi lebih boros dari yang seharusnya.
Dampak lingkungan juga tidak berdampak buruk pada risiko.
Mesin yang tidak terbakar sempurna karena pencampuran bahan bakar dapat menghasilkan emisi gas buang lebih tinggi, berkontribusi pada polusi udara yang merugikan lingkungan sekitar.
Dari sisi kenyamanan, pencampuran ini juga membuat tarikan mesin terasa berat dan performa kendaraan menurun.
Hal ini tentu menurunkan daya tarik kendaraan secara keseluruhan, baik bagi yang menggunakan mobil maupun motor.
Para ahli dan teknisi otomotif pun menyarankan agar pemilik kendaraan selalu menggunakan bahan bakar yang sesuai rekomendasi pabrikan.
Menghindari pencampuran jenis bahan bakar yang berbeda menjadi langkah penting untuk menjaga mesin tetap optimal dan tahan lama. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama