Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kasus Ledakan SMAN 72 Jakarta Ungkap Tulisan Ekstrem, Apa Makna For Agartha dan 14 Words?

Siti Rohmah • Senin, 10 November 2025 | 17:25 WIB
Senjata api mainan yang diduga milik pelaku ledakan di Masjid SMAN 72 Jakarta, Jumat (7/11) siang.
Senjata api mainan yang diduga milik pelaku ledakan di Masjid SMAN 72 Jakarta, Jumat (7/11) siang.

RADARTUBAN - Tulisan pada senjata mainan yang ditemukan di lokasi ledakan SMAN 72 Jakarta menjadi perhatian publik. Apa arti simbol-simbol itu?

Sebuah senjata diduga airsoft gun berwarna hitam ditemukan di lingkungan SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, usai insiden ledakan pada Jumat siang, 7 November 2025. Meski berbentuk seperti senjata api, benda itu dipastikan hanyalah senjata mainan.

“Setelah diperiksa, senjata tersebut merupakan replika atau senjata mainan,” ujar Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Lodewijk Freidrich Paulus, di lokasi kejadian.

Namun demikian, benda tersebut menjadi sorotan karena di permukaannya terdapat sejumlah tulisan yang mengarah pada simbol ekstrem kanan internasional.

Beberapa tulisan yang terlihat antara lain “14 Words”, “For Agartha”, “Natural Selection”, serta nama-nama seperti Brenton Tarrant—pelaku penembakan dua masjid di Selandia Baru tahun 2019—dan Alexandre Bissonnette, pelaku penembakan di masjid Quebec, Kanada, pada 2017.

Foto senjata tersebut beredar luas di media sosial, memperlihatkan detail tulisan putih di atas laras hitam.

Polisi menyita senjata itu bersama sejumlah barang lain untuk diperiksa oleh Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri.

“Kami menemukan sejumlah kesesuaian antara barang bukti di rumah terduga pelaku dengan temuan di TKP,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, Sabtu, 8 November 2025.

Arti "14 Words"

Menurut catatan Library of Congress Amerika Serikat, “14 Words” adalah slogan yang populer di kalangan kelompok supremasi kulit putih dan kerap dikaitkan dengan gerakan terorisme.

Kalimat lengkapnya berbunyi: "We must secure the existence of our people and a future for white children."

Slogan itu diciptakan oleh David Lane, anggota kelompok ekstrem kanan The Order pada 1980-an. Angka 14 sendiri merujuk pada jumlah kata dalam kalimat tersebut.

Ungkapan ini kemudian menjadi semacam kode di kalangan neo-Nazi dan kelompok ekstremis kulit putih di berbagai negara.

Istilah ini juga kerap muncul bersamaan dengan angka “88”, yang merupakan simbol untuk “Heil Hitler”.

Makna “For Agartha” dan Mitologi Dunia Murni

Istilah “Agartha” berasal dari mitologi esoterik dan teori bumi berongga (Hollow Earth Theory).

Dalam mitologi Timur, terutama versi Tibet dan India, Agartha digambarkan sebagai peradaban suci yang tersembunyi di dalam bumi.

Namun, dalam ideologi ekstrem kanan modern, Agartha sering disimbolkan sebagai gambaran tentang “dunia murni” yang bebas dari keberagaman ras dan budaya.

Istilah ini banyak digunakan di forum daring kelompok alt-right dan kanal ekstremis global, sering kali sebagai bagian dari narasi konspiratif tentang dunia ideal tanpa pengaruh globalisme dan multikulturalisme.

Baca Juga: Pelaku Teror Bom Dua Sekolah Internasional di Tangerang Selatan Minta Tebusan Rp 497 Juta

Ekstremisme di Kalangan Remaja

Direktur Eksekutif SETARA Institute, Halili Hasan, menyebut kemunculan simbol-simbol ekstrem kanan dalam insiden SMAN 72 sebagai peringatan serius tentang penyebaran ideologi kekerasan di usia dini.

“Tragedi di SMAN 72 Jakarta harus menjadi alarm bahwa ancaman ekstremisme kekerasan di kalangan pelajar masih nyata,” ujar Halili dalam siaran pers, Ahad, 9 November 2025.

Menurut Halili, penggunaan tulisan seperti “Welcome to Hell”, “For Agartha”, dan penyebutan nama-nama pelaku teror dunia menunjukkan adanya keterpaparan terhadap ideologi kekerasan, bukan sekadar ekspresi pribadi.

“Ini bukan peristiwa kriminal biasa, tapi memiliki indikasi keterhubungan dengan ideologi ekstremis,” tambahnya.

Survei SETARA Institute tahun 2023 menunjukkan 0,6 persen remaja Indonesia telah terpapar ideologi ekstrem, sementara 5 persen tergolong intoleran aktif. Meski kecil, angkanya meningkat dibandingkan survei 2016.

Halili mendesak pemerintah menjadikan pencegahan ekstremisme di sekolah sebagai prioritas nasional.

“Kita tidak boleh terlena hanya karena tidak ada serangan besar. Pendidikan kebangsaan dan toleransi harus diperkuat sejak dini,” ujarnya.

Kondisi Korban dan Penyelidikan

Polisi mencatat 96 orang menjadi korban dalam insiden ledakan tersebut, 29 di antaranya masih dirawat di rumah sakit.

Tim gabungan dari Polda Metro Jaya, Densus 88, Puslabfor Mabes Polri, dan Polres Metro Jakarta Utara masih menelusuri sumber ledakan.

Sementara itu, siswa yang diduga sebagai pelaku kini telah sadar setelah menjalani operasi di bagian kepala.

“Sudah sadar, namun masih dalam tahap pemulihan fisik dan psikis di ruang ICU,” kata Kombes Budi Hermanto.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#airsoft #14 words #For Agartha #kelapa gading #senjata mainan #SMAN 72 Jakarta