RADARTUBAN- Ternyata, jejak pesawat putih di langit tidak selalu terbentuk di udara jernih.
Fenomena yang dikenal sebagai contrail atau jejak kondensasi pesawat ini justru lebih sering muncul di dalam awan alami, bukan di langit biru yang cerah seperti yang selama ini dikira banyak orang.
Jejak putih yang terlihat di belakang pesawat sebenarnya adalah hasil kondensasi uap air dari gas buangan mesin pesawat yang bertemu dengan udara dingin di ketinggian 8–12 kilometer.
Proses ini menghasilkan kristal es yang terlihat sebagai garis putih memanjang di langit.
Namun, temuan ilmiah terbaru menunjukkan bahwa sekitar 80% contrail justru terbentuk di dalam awan alami, bukan di udara jernih.
Kondisi kelembapan yang tinggi di dalam awan membuat uap air dari pesawat lebih mudah mengembun dan membeku menjadi kristal es.
Hal ini menjelaskan mengapa contrail sering tampak lebih tebal dan bertahan lebih lama saat pesawat terbang di dalam atau di dekat awan.
Sebaliknya, di udara jernih dengan kelembapan rendah, contrail biasanya tipis dan cepat menghilang.
Kontribusi terhadap Dampak Iklim
Kontrail yang terbentuk di dalam awan juga berdampak lebih besar terhadap perubahan iklim karena dapat memperkuat efek rumah kaca.
Kristal es yang terbentuk di dalam awan dapat memantulkan cahaya matahari dan mempengaruhi pola cuaca.
Menurut Kepala Dinas Penerbangan TNI Angkatan Udara, Marsma TNI Indan Gilang Buldansyah, fenomena contrail adalah hal biasa dan tidak berbahaya.
Jejak putih tersebut bukanlah senjata biologis atau bahan kimia berbahaya, melainkan hasil proses fisik alami yang terjadi saat pesawat terbang di ketinggian. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni