RADARTUBAN - Kontingen Jawa Timur harus puas menempati peringkat tiga di Popnas 2025 setelah mengumpulkan 50 medali emas, 54 perak, dan 58 perunggu.
Sementara DKI Jakarta keluar sebagai juara umum dengan 99 emas, disusul Jawa Tengah di posisi kedua dengan 57 emas.
Hasil ini menjadi refleksi bagi dunia olahraga pelajar di Jawa Timur bahwa perjuangan menuju juara umum masih panjang.
Dalam konteks Popnas 2025, capaian tersebut menandakan adanya upaya serius, namun juga ruang besar untuk pembenahan sistem pembinaan.
Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora Jawa Timur), M. Hadi Wawan Guntoro, menegaskan bahwa pihaknya segera melakukan evaluasi terhadap Program Sentra Pembinaan Olahraga Pelajar (SPOP) yang selama ini menjadi wadah pembinaan atlet muda.
“Sebenarnya kami sudah melakukan evaluasi SPOP, namun dari hasil Popnas akan menjadi bahan evaluasi termasuk atlet, pelatih dan sarana prasarana latihan, selain itu kita juga akan terus bekerja sama dengan stakeholder olahraga maupun perguruan tinggi,” katanya.
Perlu Kolaborasi Lebih Kuat Antarlembaga
Menurut Hadi Wawan, pembinaan atlet pelajar tidak bisa berjalan sendiri tanpa kolaborasi.
Dukungan dari berbagai pihak seperti KONI Jatim, KONI kabupaten/kota, Pengprov, Smanor, dan perguruan tinggi menjadi faktor penting dalam memperkuat kualitas pembinaan.
“Agar pola pembinaan itu seiring sejalan, sebab atlet hasil Popnas ini bakal menjadi kekuatan bagi Jatim di PON mendatang,” ujarnya.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa keberhasilan di Popnas 2025 bukan hanya tanggung jawab pemerintah daerah, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama semua elemen olahraga di Jawa Timur.
Atlet Sudah Berjuang, Sistem Harus Dibenahi
Meski gagal menjadi juara umum, Hadi Wawan tetap mengapresiasi kerja keras para atlet dan pelatih.
Menurutnya, mereka sudah memberikan usaha maksimal di tengah berbagai keterbatasan.
“Alhamdulillah kita sudah berusaha maksimal dengan seluruh sumber daya yang ada, memang ada beberapa kendala, seperti atlet yang tidak tampil maksimal di Popnas karena mereka sudah turun di event lain dan ada juga atlet yang tidak bisa turun karena bergabung di Pelatnas,” pungkasnya.
Capaian peringkat tiga di Popnas 2025 menjadi bahan introspeksi bagi Jawa Timur untuk memperbaiki sistem pembinaan atlet muda.
Program seperti SPOP perlu diperkuat agar prestasi pelajar tidak berhenti di tingkat nasional, tetapi terus berkembang hingga menjadi tulang punggung Jatim di PON maupun ajang internasional. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni