Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Ketika Hoaks Lebih Laku daripada Fakta: PR Besar Literasi Digital di Jawa Timur

Bihan Mokodompit • Rabu, 12 November 2025 | 00:05 WIB
Ilustrasi orang termakan hoaks
Ilustrasi orang termakan hoaks

RADARTUBAN - Fenomena maraknya penyebaran hoaks di media sosial menjadi perhatian serius pemerintah dan masyarakat.

Karena itu, Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Timur (Diskominfo Jatim) terus berupaya meningkatkan literasi digital masyarakat agar tidak mudah termakan informasi palsu.

Data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menunjukkan bahwa 72,6 persen masyarakat Indonesia kini mengandalkan media sosial sebagai sumber utama informasi, melampaui televisi maupun situs berita daring.

Namun, hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) memperlihatkan sisi lain: media sosial justru menjadi tempat paling banyak beredar hoaks.

Kondisi inilah yang membuat peningkatan literasi digital di kalangan masyarakat Jawa Timur menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar pilihan.

Diskominfo Jatim Dorong Masyarakat Lebih Cerdas di Dunia Maya

Kepala Diskominfo Jatim, Sherlita Ratna Dewi Agustin, menegaskan bahwa pemerintah provinsi bersama para pemangku kepentingan berkomitmen menciptakan ruang digital yang sehat.

“Berangkat dari hal ini, Pemerintah Provinsi Jawa Timur beserta seluruh stakeholder menyelenggarakan kegiatan peningkatan literasi digital bagi masyarakat Jawa Timur untuk menciptakan ruang digital yang sehat. Semoga kegiatan ini menjadi bentuk ikhtiar semua meningkatkan literasi digital dalam memanfaatkan teknologi informasi,” ujarnya kepada awak media.

Kegiatan bertema “Mengubah Kebiasaan Pengguna Internet yang Konsumtif menjadi Pengguna yang Produktif” itu diikuti seratus anggota Karang Taruna.

Inisiatif ini menunjukkan bahwa upaya memperkuat literasi digital tidak hanya berhenti di tataran kebijakan, tetapi juga menyentuh lapisan akar rumput masyarakat.

Darurat Internet dan Tantangan Generasi Digital

Narasumber Karolus Danar Kurniawan menyoroti kondisi masyarakat Jawa Timur yang tengah menghadapi “darurat internet”.

Menurutnya, masalah bukan sekadar ketidaktahuan menggunakan internet, tetapi juga ketidakmampuan memanfaatkannya secara optimal.

“Internet yang seharusnya bisa memaksimalkan kita justru cenderung malfungsi. Jika kita tidak bisa menjadi raja di internet, kita akan diperbudak internet,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan realita bahwa literasi digital bukan hanya tentang kemampuan teknis, melainkan juga kesadaran kritis dalam memilah dan mengelola informasi.

Adit Hananta Utama, jurnalis sekaligus aktivis kepemudaan, menambahkan bahwa digitalisasi memang membawa banyak manfaat, tetapi juga menimbulkan persoalan baru.

“Digitalisasi tidak hanya sekadar scroll TikTok, reels, Instagram, atau short di YouTube, tapi juga ada platform yang bisa dikembangkan sebagai kekuatan ekonomi,” katanya.

Baca Juga: Beredar Kabar Surat Presiden untuk Ganti Kapolri, Istana dan DPR Pastikan Hoaks

Masyarakat Jawa Timur Harus Jadi Pengguna Digital yang Produktif

Tantangan terbesar bagi masyarakat Jawa Timur saat ini adalah mengubah pola konsumtif menjadi produktif di ruang digital.

Diskominfo Jatim berharap literasi digital dapat menjadi tameng melawan hoaks sekaligus pintu menuju kemandirian ekonomi berbasis digital.

Upaya ini bukan hanya demi keamanan informasi, tetapi juga masa depan ekonomi kreatif di Jawa Timur.

Dengan meningkatkan literasi digital, masyarakat diharapkan bisa bertransformasi menjadi pengguna internet yang bijak, mandiri, dan berdaya di tengah derasnya arus informasi global.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#komdigi #Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia #penyebaran hoaks #APJII #literasi digital #diskominfo jatim