RADARTUBAN- Trio produser Laleilmanino—Lale, Ilman, dan Nino—telah menjadi kekuatan kreatif stabil di industri musik Indonesia sejak resmi terbentuk pada 2014.
Berpegang pada filosofi “omnitrium perfectum”, mereka memanfaatkan kekuatan tiga kepala untuk menciptakan harmoni dalam proses produksi lagu.
Dalam 11 tahun, mereka menelurkan 161 lagu untuk berbagai artis dan brand, dengan rata-rata 10–20 karya per tahun.
Baca Juga: Suka Duka Jadi WNI Versi Hindia: Antara Cinta Tanah Air dan Luka di Industri Musik
Kolaborasi mereka berjalan efektif—Lale dan Ilman menggarap progresi musik, sementara Nino memastikan hasil akhirnya tetap pop dan mudah dinikmati.
Tidak hanya membuat lagu, mereka mengembangkan konsep “butik musik”: layanan kreatif penuh dari ide mentah hingga produksi akhir.
Pendapatan utama datang dari jasa produksi, sementara royalti menjadi tabungan jangka panjang.
Ritme kerja intens membuat mereka mampu menghasilkan tiga lagu dalam satu hari workshop.
Baca Juga: Diva Indonesia Ruth Sahanaya Kembali Berkarya Lewat Lagu Terbaru Berjudul Sebaris Lirik Cinta
Inspirasi mereka sering datang dari pengalaman pribadi, termasuk kisah nyata yang melatarbelakangi lagu “Kupu-Kupu” Tiara Andini.
Dalam wawancara, mereka bahkan menunjukkan kemampuan mencipta progresi chord dan lirik dalam waktu kurang dari 15 menit.
Meski nama mereka populer, Laleilmanino memilih tetap fokus di balik layar, tidak tampil sebagai grup di panggung.
Keputusan ini memperkuat posisi mereka sebagai arsitek musik pop Indonesia modern, yang menempatkan emosi, struktur, dan logika dalam keseimbangan.
Bukti jejak kreatif mereka terlihat dalam sederet karya populer, mulai dari jingle “Buka Hati Buka Semangat”, “Satu Tuju”, “Takkan Ada Habisnya”, hingga kolaborasi aransemen “Hati-Hati di Jalan”.
Lebih dari satu dekade berkarya, Laleilmanino menunjukkan bahwa musik abadi lahir dari disiplin, kerja tim, dan empati terhadap pendengar. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni