Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

IPOC 2025 Resmi Dibuka di Bali, Momen Tentukan Arah Baru Industri Sawit Dunia

Yudha Satria Aditama • Kamis, 13 November 2025 | 23:27 WIB
Ketua GAPKI Eddy Martono saat membuka IPOC 2025 di Bali.
Ketua GAPKI Eddy Martono saat membuka IPOC 2025 di Bali.

RADARTUBAN – Konferensi sawit terbesar dan paling berpengaruh di dunia, 21st Indonesian Palm Oil Conference & 2026 Price Outlook (IPOC 2025), resmi dibuka di Bali, Kamis (13/11).

Acara berlangsung di Bali International Convention Center (BICC), The Westin Resort Nusa Dua, dan menjadi ajang berkumpulnya pemangku kepentingan global industri sawit.

Pembukaan konferensi dihadiri pejabat tinggi negara, duta besar, pelaku industri, akademisi, hingga lembaga internasional dari berbagai negara.

Tahun ini, IPOC mencatat rekor baru dengan 1.545 peserta dari 28 negara serta dukungan sponsor terbanyak sepanjang sejarah penyelenggaraan.

Ketua Pelaksana IPOC 2025 Mona Surya menyebut, dua dekade perjalanan IPOC mencerminkan kekuatan komunitas sawit dunia.

“Setiap tahun, ketika saya berdiri di panggung ini, saya selalu merasakan kebanggaan besar. IPOC adalah homecoming tahunan kita. Dari awal yang sederhana, kini menjadi ajang global yang ditunggu dunia,” ujar Mona dalam sambutannya.

Mona menegaskan, kekuatan utama IPOC terletak pada interaksi lintas negara yang melahirkan kolaborasi baru.

Tema konferensi tahun ini, “Navigating Complexity, Driving Growth: Governance, Biofuel Policy and Global Trade,” dinilai sangat relevan dengan situasi industri yang kian dinamis.

“Industri kita sedang berada di persimpangan jalan. Kita menghadapi volatilitas harga, stagnasi produksi di beberapa negara produsen, serta hambatan dagang seperti EUDR. Kebijakan nasional dan global kini menjadi kekuatan yang membentuk operasional kita,” tegasnya.

Tingginya animo terhadap konferensi tahun ini juga terlihat dari 113 booth pameran dan 38 perusahaan sponsor.

Mona menyampaikan apresiasi kepada seluruh sponsor dari kategori Titanium hingga Gold, serta tim panitia yang bekerja sepanjang tahun.

Sementara itu, Ketua GAPKI Eddy Martono menyoroti kinerja solid industri sawit nasional hingga September 2025.

Produksi sawit Indonesia mencapai 43 juta ton atau naik 11 persen dibanding tahun sebelumnya. Ekspor menembus 25 juta ton dengan devisa senilai USD 27,3 miliar, meningkat 40 persen dari tahun lalu.

“Detak industri kita sangat kuat. Namun, capaian positif ini juga dibayangi tantangan berat dari dinamika perdagangan global,” ujar Eddy.

Ia menekankan pentingnya strategi jangka panjang menghadapi stagnasi produktivitas dan regulasi baru, termasuk implementasi EUDR.

Menurutnya, ISPO harus menjadi standar emas global untuk menunjukkan komitmen keberlanjutan industri sawit Indonesia.

“Kita harus menjawab aturan dengan standar yang lebih baik. ISPO harus menjadi global gold standard yang membuktikan bahwa keberlanjutan adalah komitmen, bukan slogan,” tegasnya.

Eddy juga menyoroti perlunya gerakan nasional peremajaan sawit agar produktivitas jangka panjang dapat terus meningkat.

“Kita tak bisa mengandalkan mesin lama untuk menggerakkan masa depan,” katanya.

Selain kebijakan ekspor, Eddy menyebut program biofuel B35 dan B40 sebagai faktor penting yang menjaga stabilitas permintaan domestik sekaligus mendukung penurunan emisi nasional.

Dalam kesempatan tersebut, GAPKI juga mengumumkan pemenang kompetisi koperasi pekebun paling produktif dari Kutai Timur, Kalimantan Timur, dengan hasil panen 37,4 ton TBS—tertinggi tahun ini.

Inovasi generasi muda juga mendapat sorotan melalui National Palm Oil Hackathon 2025, diikuti 139 tim dari 35 universitas.

Tim BiFlow dari ITS Surabaya keluar sebagai pemenang berkat teknologi RAPIDS, sistem berbasis machine learning untuk mendeteksi penyakit Ganoderma.

Selain itu, diumumkan pula kolaborasi internasional Elaeidobius Consortium bersama Tanzania Agricultural Research Institute untuk meningkatkan efisiensi penyerbukan pada perkebunan sawit.

Konferensi yang berlangsung 13–14 November 2025 ini akan membahas kebijakan domestik, harmonisasi regulasi, hingga respon terhadap EUDR.

Sejumlah pembicara dunia turut hadir, antara lain Thomas Mielke (Oil World), Julian Conway McGill (Glenauk Economics), dan Ryan Chen (Cargill China).

IPOC 2025 diharapkan menjadi forum strategis yang memberi arah baru bagi industri sawit dunia dalam menyongsong tahun 2026. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Indonesian Palm Oil Conference #produksi sawit indonesia #IPOC 2025 #Konferensi sawit terbesar #bali