RADARTUBAN - Zlatan Ibrahimović memang sudah pensiun, tapi suaranya masih menggema keras di dunia sepak bola.
Kali ini, legenda asal Swedia itu membuka dapur pengalamannya bermain di tiga liga elite Eropa: Spanyol, Inggris, dan Italia.
Dikutip dari akun X @ESPNUK, Zlatan menjelaskan karakter unik masing-masing liga—tanpa basa-basi, dengan gaya khasnya yang lugas dan jujur.
“In La Liga, they try to play the game. They try to build from the back, even the teams who aren't the top level.”
“The Premier League is high pace. It's front and back. Even if you’re a high-level, technical player, if you can’t manage the pace, you won’t be able to handle it.”
“In Italy, it’s very tactical, it's very studied. It's more important to defend than to attack. It’s very difficult. As a striker against a team that focuses a lot on defending, it’s not easy.”
Kata-kata Zlatan ini bukan sekadar komentar — tapi pengalaman hidup. Ibra pernah jadi bagian dari Barcelona di La Liga, Manchester United di Premier League, dan tentu saja ikon di AC Milan, Inter, serta Juventus di Serie A.
Jadi, kalau bicara soal perbedaan atmosfer antar liga, Ibrahimović benar-benar tahu lapangannya, bukan sekadar teori.
La Liga : Kerap Disebut Surganya Teknik
Di Spanyol, Zlatan merasakan betul bagaimana sepak bola dibangun dari bawah — rapi, sabar, dan bernuansa seni.
Semua tim, bahkan yang papan bawah, berusaha menjaga identitas permainan. Tak heran, La Liga kerap disebut surganya teknik dan visi bermain.
Premier League : Sepak Bola adalah Perang Fisik
Beda cerita di Inggris. Di sana, sepak bola adalah perang fisik dan tempo tinggi. “Front and back”, kata Zlatan — permainan bolak-balik tanpa jeda.
Tak ada waktu untuk berpikir lama. Setiap detik adalah duel. Bahkan pemain paling jenius pun bisa tenggelam kalau tak kuat napas.
Serie A : Tantangan Paling Rumit
Sementara Italia? Di negeri taktik itu, Zlatan justru menemukan tantangan paling rumit.
Serie A, menurutnya, bukan hanya soal menyerang, tapi tentang bagaimana bertahan dengan disiplin ekstrem.
Setiap pergerakan striker sudah dipelajari, dianalisis, dan dijebak. “Sebagai penyerang, menghadapi tim yang sangat fokus bertahan itu tidak mudah,” tegasnya.
Setiap Liga Punya Daya Tarik Tersendiri
Refleksi Zlatan ini sekaligus menjelaskan mengapa setiap liga punya daya tarik tersendiri: La Liga dengan estetika, Premier League dengan intensitas, dan Serie A dengan kecerdikan taktik.
Tiga gaya, tiga dunia — tapi hanya sedikit pemain yang bisa bertahan dan bersinar di ketiganya. Zlatan Ibrahimović adalah salah satu dari yang sedikit itu. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni