Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Awas! 5 Jenis Modus Penipuan WhatsApp Yang Paling Sering Terjadi, Berikut Penjelasan Dan Cara Mengatasinya

M Robit Bilhaq • Senin, 17 November 2025 | 02:42 WIB
Edit gemini ai, ilustrasi kejahatan WhatsApp di Indonesia
Edit gemini ai, ilustrasi kejahatan WhatsApp di Indonesia

RADARTUBAN – Pada era serba digital ini, penipu online semakin kreatif dan canggih dalam mencari cara untuk menjebak korban lewat pesan singkat dan aplikasi percakapan.

Modus yang digunakan mencakup pencurian data pribadi, tawaran kerja palsu, hingga investasi fiktif.

Untuk menanggapi tren ini, WhatsApp bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Kementerian Perdagangan (Kemendag), serta Direktorat Tindak Pidana Siber Polri meluncurkan kampanye edukasi publik.

Kampanye yang ditayangkan melalui halaman Facebook Indonesia ini membawa pesan sederhana, yaitu “Berhenti sejenak dan bertanya, apakah ini resmi?”pesan tersebut bermakna mengajak masyarakat lebih berhati-hati sebelum membagikan data pribadi atau menindaklanjuti pesan yang diterima.

Berikut ini adalah bentuk-bentuk modus penipuan yang paling sering muncul di WhatsApp beserta langkah pencegahannya:

1. Pengambilalihan Akun (Account Takeover)

Pengambilalihan akun biasanya dimulai dari tautan mencurigakan atau permintaan kode verifikasi.

Jika korban lengah, akun bisa diretas dan dipakai untuk melakukan penipuan kepada orang lain.

Langkah yang dapat dilakukan untuk Pencegahan, yaitu aktifkan verifikasi dua langkah dengan PIN, jangan bagikan kode pendaftaran, dan cek secara rutin perangkat yang tertaut dengan WhatsApp.

2. Lowongan Kerja Palsu

Tawaran kerja dengan gaji tinggi untuk pekerjaan ringan sering dijadikan umpan.

Biasanya korban diminta mentransfer sejumlah uang dengan alasan “biaya administrasi”.

Pencegahan yang dapat dilakukan, yaitu abaikan panggilan dari nomor asing, blokir dan laporkan kontak mencurigakan, serta pastikan nomor berasal dari negara yang benar.

3. Peniruan Identitas (Impersonation)

Pelaku sering berpura-pura menjadi teman, keluarga, atau akun resmi untuk mendapatkan kepercayaan korban.

Pencegahan yang dapat dilakukan, yaitu batasi siapa yang dapat menambahkan Anda ke grup, atur privasi foto profil, periksa detail akun sebelum berinteraksi, dan segera lakukan pemblokiran atau laporkan jika akun tersebut mencurigakan.

4. Penipuan Investasi

Investasi dengan iming-iming keuntungan besar dalam waktu singkat masih menjadi trik klasik di ranah digital.

Banyak pelaku memanfaatkan WhatsApp untuk menawarkan skema investasi palsu atau program eksklusif yang sebenarnya tidak nyata.

Langkah yang dapat diambil untuk mengatasinya, yaitu jika tawaran terdengar terlalu indah untuk dipercaya, kemungkinan besar itu penipuan.

Abaikan pesan dari nomor asing dan segera laporkan kontak yang menunjukkan aktivitas mencurigakan.

5. Penipuan Asmara (Romance Scam)

Dalam modus ini, penipu membangun hubungan emosional dengan korban, berpura-pura menjalin kedekatan, lalu meminta uang atau informasi pribadi.

Cara menghindari modus ini adalah dengan selalu verifikasi identitas lawan bicara, jangan pernah mengirim uang kepada orang yang belum ditemui secara langsung, serta blokir kontak yang dirasa mencurigakan.

Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa kerugian masyarakat akibat penipuan online mencapai Rp7,3 triliun.

Diharapkan masyarakat Indonesia semakin memahami literasi digital sehingga lebih waspada terhadap berbagai bentuk kejahatan siber.

Sikap hati-hati menjadi kunci utama di era komunikasi serba cepat ini untuk melindungi data dan privasi pribadi. (*/tia)

Editor : radar tuban digital
#pencurian data #Kementerian Komunikasi dan Digital #investasi #Verifikasi Dua Langkah #whatsapp #keuntungan #Facebook #masyarakat #privasi #Penipuan #penipu #informasi pribadi #pekerjaan #pemblokiran