Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Lonjakan Harga Saham BUVA Picu Sorotan Investor, Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu Jadi Perhatian

Bihan Mokodompit • Kamis, 27 November 2025 | 03:05 WIB
Ilustrasi bursa saham
Ilustrasi bursa saham

RADARTUBAN - Seiring dengan lonjakan harga dan sorotan publik, saham BUVA (PT Bukit Uluwatu Villa Tbk) kini jadi pembicaraan hangat di kalangan investor.

Analisis ini mengupas potensi dan risiko dari emiten perhotelan milik Happy Hapsoro, menilik juga rencana rights issue BUVA dan laporan keuangan terbaru terkait keuntungan perusahaan.

Aksi Korporasi dan Struktur Kepemilikan

BUVA adalah perusahaan properti dan perhotelan yang dikuasai oleh PT Nusantara Utama Investama.

Menurut laporan resmi, pemegang pengendali ini memiliki porsi sekitar 61%.

Sementara itu, Happy Hapsoro tercatat sebagai pemilik manfaat utama (ultimate beneficial owner).

Belum lama ini, BUVA mendapat persetujuan pemegang saham untuk melakukan rights issue BUVA sebanyak 4,8 miliar lembar saham.

Manajemen menyatakan bahwa dana hasil rights issue itu akan digunakan untuk pengembangan proyek dan pelunasan utang.

Baca Juga: Potensi Gelembung di Pasar Saham Global, Bank of England Serukan Kewaspadaan

Kinerja Keuangan: Dari Rugi Jadi Laba

Salah satu faktor yang membuat saham BUVA menarik adalah kinerja keuangan yang berbalik positif.

Pada semester I tahun 2025, BUVA melaporkan laba bersih sebesar Rp 81,1 miliar, padahal pada periode sama tahun sebelumnya mencatat kerugian.

Pertumbuhan ini terutama didorong oleh segmen hotel, yang menjadi penopang utama pendapatan BUVA.

Divestasi Saham oleh Happy Hapsoro

Di tengah performa positif, Happy Hapsoro justru melepas sebagian sahamnya di BUVA.

Pada 10–11 September 2025, Hapsoro menjual 483 juta lembar saham BUVA dan memperoleh dana sekitar Rp 130 miliar.

Kemudian, pada akhir September, ia kembali melepas 325 juta saham pada harga Rp 450 per lembar, dan dia menyebut langkah ini sebagai “realisasi keuntungan dan menambah saham free float di masyarakat.”

Setelah divestasi tersebut, porsi kepemilikan langsung Hapsoro turun menjadi sekitar 3,99%.

Baca Juga: IHSG Menanjak ke 8.394, Investor Lokal Kembali Dominasi: Sinyal Optimisme Pasar Awal November

Risiko dan Peluang untuk Investor

Peluang:

• Dengan rights issue BUVA, ada potensi pendanaan segar untuk ekspansi bisnis, yang bisa memperkuat fundamental jangka panjang.

• Laba bersih positif meningkatkan kredibilitas BUVA sebagai perusahaan perhotelan, terutama jika tren pariwisata terus pulih.

• Peningkatan saham free float karena penjualan Hapsoro bisa meningkatkan likuiditas dan menarik lebih banyak investor publik.

Risiko:

• Divestasi besar oleh pemegang utama bisa menimbulkan pertanyaan tentang visi jangka panjang dan stabilitas kepemilikan.

• Jika investor tidak ikut rights issue, akan terjadi dilusi saham yang bisa menurunkan nilai milik mereka.

• Ekspansi melalui akuisisi dan proyek baru memiliki risiko eksekusi — kegagalan bisa menekan kinerja keuangan.

Saham BUVA menawarkan cerita menarik: kombinasi fundamental yang membaik, aksi korporasi signifikan, serta risiko struktural yang jelas.

Untuk investor, penting melakukan DYOR (Do Your Own Research): pantau laporan keuangan BUVA, perkembangan rights issue BUVA, dan dinamika kepemilikan Happy Hapsoro.

Jika dikelola dengan transparan, BUVA bisa menjadi salah satu saham properti-pariwisata dengan potensi jangka panjang. Namun, volatilitas dan risiko dilusi tetap harus diperhitungkan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#investor #happy hapsoro #harga saham #saham BUVA