Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Tekanan Cuaca Ekstrem: Apakah Jatim Siap Hadapi Intensitas Bencana yang Meningkat?

Bihan Mokodompit • Sabtu, 29 November 2025 | 02:10 WIB
Kondisi cuaca tak stabil memicu peningkatan bencana
Kondisi cuaca tak stabil memicu peningkatan bencana

RADARTUBAN - Tak sedikit pihak yang menyoroti bagaimana tekanan cuaca ekstrem yang erus meningkat di berbagai wilayah Jawa Timur mulai menuntut kesiapan yang jauh lebih kuat dari seluruh lapisan penanganan bencana.

Fenomena cuaca yang tidak stabil telah memicu lonjakan bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah, sehingga mendorong BPBD Jatim memperketat pemantauan melalui Pusdalops PB dan mempercepat respons di tingkat kabupaten/kota.

Lonjakan Bencana dan Kebutuhan Koordinasi Cepat

Dalam beberapa hari terakhir, Jawa Timur mengalami peningkatan frekuensi bencana hidrometeorologi, termasuk banjir di Gresik, Pasuruan, Jombang, dan Kota Surabaya.

Situasi ini berlangsung di tengah tekanan cuaca ekstrem yang memengaruhi pola hujan dan debit sungai.

Kondisi tersebut membuat BPBD Jatim harus mengaktifkan seluruh sistem monitoring agar setiap kejadian dapat terpantau secara real time.

Di ruang Pusdalops PB, data dari berbagai daerah diperbarui setiap saat untuk memastikan tindakan di lapangan tidak terlambat.

Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak, bahkan mendatangi ruang pemantauan itu tanpa pengawalan pada Minggu malam.

Ia langsung berkoordinasi melalui sambungan telepon dengan kepala pelaksana BPBD daerah terdampak.

Di Gresik dan Surabaya, pembaruan informasi diperlukan agar tidak terjadi penumpukan warga terdampak banjir.

Mitigasi Erupsi Semeru dan Tantangan Operasional

Selain banjir, tekanan cuaca ekstrem juga berdampak pada wilayah sekitar Gunung Semeru yang masih berurusan dengan material vulkanik. BPBD Jatim memastikan percepatan pembersihan terus dilakukan.

“Tim BPBD Jatim akan menambah alat berat untuk percepatan pembersihan material vulkanik,” ujar Kabid KL, Satriyo Nurseno.

Tim relawan dan beberapa unsur lain juga tetap memfokuskan diri pada kebutuhan dasar pengungsi seperti dapur umum, air bersih, dan kesehatan.

Langkah ini penting, terutama karena bencana hidrometeorologi berpotensi memengaruhi kondisi pengungsi yang masih berada di wilayah rawan.

Imbauan Peningkatan Kesiapsiagaan dan Kepentingan Publik

Dalam waktu berdekatan, Sekdaprov Jatim Adhy Karyono telah lebih dulu mengunjungi Pusdalops PB. Ia menegaskan pentingnya meningkatkan kewaspadaan.

“Bencana bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Saya minta BPBD se-Jatim, terus semangat meningkatkan kesiapsiagaannya,” ujarnya.

Pernyataan ini menguatkan dorongan agar seluruh kabupaten/kota tidak hanya mengandalkan sistem pemantauan, tetapi juga mempercepat langkah pencegahan.

Dengan tekanan cuaca ekstrem yang masih diprediksi berlangsung, kesiapsiagaan menjadi kepentingan publik utama, karena bencana dapat langsung memengaruhi hajat hidup warga.

Oleh sebab itu, informasi dari Pusdalops PB menjadi fondasi dalam menentukan kebijakan lapangan yang cepat dan akurat.

Kesiapan Jatim Diuji

Peningkatan intensitas bencana hidrometeorologi menjadi pengingat bahwa mitigasi harus berjalan beriringan dengan respons cepat.

Upaya BPBD Jatim, mulai dari penambahan alat berat hingga penguatan layanan dasar pengungsi, menegaskan komitmen tersebut.

Namun dengan tekanan cuaca ekstrem yang masih berpotensi mengganggu stabilitas wilayah, pertanyaannya tetap sama: sejauh mana Jawa Timur siap menghadapi situasi yang berkembang cepat? (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#wakil gubernur jatim #erupsi semeru #Cuaca Ekstrem #bencana hidroklimatologi #Jawa Timur #bpbd jatim