RADARTUBAN – Pemerintah terus mempercepat program pemulihan ekosistem di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau.
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menegaskan bahwa tahap awal restorasi mencakup 31 ribu hektare, sebagai langkah penting untuk menjaga kelestarian satwa liar, terutama gajah Sumatera.
Restorasi Dimulai dari 31 Ribu Hektare
Raja Juli Antoni memastikan proses pemulihan berjalan bertahap dan terukur. Ia bersama jajaran Kemenhut melakukan penanaman pohon saat meninjau langsung lokasi TNTN.
Upaya serupa sebelumnya dilakukan oleh Wamenhut Rohmat Marzuki.
“Taman Nasional Tesso Nilo terus kita pulihkan. Kami ingin memastikan gajah-gajah seperti Domang dan lainnya memiliki kembali ruang hidup yang aman,” ujar Raja Juli dari Jakarta, Jumat.
Ia menjelaskan, pemulihan ekosistem dimulai dari 511 hektare, kemudian diperluas dengan target tambahan 7 ribu hektare.
Secara keseluruhan, restorasi ditujukan untuk mencapai 80 ribu hektare sesuai rencana pengembangan terbaru.
Baca Juga: Bayi Gajah Sumatera Lahir Di Taman Wisata Alam Buluh Cina Riau, Netizen Turut Gembira!
Instruksi Presiden dan Penertiban Kawasan
Raja Juli mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) untuk mengembalikan fungsi TNTN sebagai habitat gajah Sumatera yang kini semakin terdesak.
Penataan kawasan ini tak lepas dari berbagai tantangan, termasuk resistensi masyarakat.
Meski demikian, pemerintah mengklaim telah melakukan pendekatan persuasif selama lima bulan terakhir.
Relokasi 394 KK Dimulai Pertengahan Desember
Sebagai bagian dari penataan kawasan, pemerintah menargetkan 394 kepala keluarga (KK) yang tinggal di area inti TNTN akan direlokasi mulai pertengahan Desember ke lokasi yang sudah disiapkan dan akan dilegalkan.
“Kami memahami adanya resistensi. Namun, dengan pendekatan yang tepat, relokasi di kawasan inti 31 ribu hektare akan mulai berjalan sesuai rencana,” tegasnya.
Upaya Melindungi Gajah Sumatera
Menhut menegaskan bahwa relokasi tidak menyentuh kawasan konservasi yang telah ditetapkan sebagai habitat penting gajah Sumatera—spesies yang kondisinya semakin mengkhawatirkan akibat penyempitan ruang gerak.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada publik dan warganet yang terus memberikan dukungan terhadap percepatan restorasi TNTN. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni