Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Fenomena Gaya Hidup ala Jakarta dengan Gaji UMR Jogja: Tekanan Sosial hingga Minimnya Literasi Keuangan

Bihan Mokodompit • Rabu, 3 Desember 2025 | 16:58 WIB
Ilustrasi Gaya hidup DKI Jakarta Gaji UMR Jogja.
Ilustrasi Gaya hidup DKI Jakarta Gaji UMR Jogja.

RADARTUBAN - Banyak orang sekarang memilih bergaya hidup ala ibu kota, padahal pendapatan mereka hanya pas-pasan, semisal “gaji UMR Jogja.”

Kenapa fenomena “gaya hidup DKI Jakarta, gaji UMR Jogja” bisa marak? Berikut ulasannya secara mendalam.

Tekanan Sosial dan Pengaruh Media Sosial

Gaya hidup konsumtif banyak dipicu oleh tekanan sosial dan pengaruh media sosial.

Studi menunjukkan bahwa penggunaan media sosial berdampak signifikan terhadap perilaku konsumtif generasi muda.

Saat banyak teman atau “teman online” memamerkan gaya hidup mewah, nongkrong di kafe hits, jalan-jalan, outfit modis, muncul rasa “diadu gaya” sehingga terasa wajib untuk ikut tampil serupa.

Akhirnya, meskipun pendapatan terbatas, dorongan psikologis membuat seseorang ikut gaya hidup yang mahal.

Budaya Konsumtif dan Keinginan Dianggap “Sukses”

Bagi sebagian orang, gaya hidup ala kota besar adalah simbol status: dianggap lebih modern, “naik kelas,” atau setidaknya ingin terlihat seperti itu.

Baca Juga: Green is the New Cool! Gaya Hidup Kopi Berkelanjutan Jadi Bahasa Baru Gen Z Pecinta Ngopi

Pola ini sering muncul terutama pada generasi muda dan kelas menengah, yang ingin menunjukkan bahwa mereka “berkembang.”

Tapi kenyataannya, gaya hidup konsumtif tanpa disertai pengelolaan keuangan sering merusak stabilitas ekonomi.

Seperti yang diriset oleh ilmuwan yang meneliti gaya hidup konsumtif terhadap stabilitas ekonomi kaum milenial.

Lingkungan Pergaulan dan Efek Komparasi

Lingkungan sosial, pertemanan, atau circle kegiatan juga sangat menentukan.

Kalau sebagian teman “nongkrong terus,” “jalan terus,” “koleksi barang terus,” maka orang lain yang punya pendapatan kecil pun bisa ikut-ikutan demi merasa “tidak ketinggalan.”

Penelitian di berbagai kota menunjukkan bahwa gaya hidup dan media sosial bersama-sama memengaruhi perilaku konsumtif, artinya, lingkungan + eksposur media membuat seseorang lebih mudah tergoda untuk konsumsi berlebihan.

Literasi Keuangan Lemah, Risikonya Besar

Seringkali orang tidak sadar bahwa gaya hidup konsumtif membutuhkan pendapatan dan perencanaan finansial yang matang.

Tanpa literasi keuangan, keinginan tampil gaya bisa membuat seseorang sulit mengelola uang, mudah boros, dan akhirnya terjebak hutang.

Banyak studi menyebut bahwa literasi keuangan adalah faktor penting yang bisa mengontrol perilaku konsumtif.

Artinya: kalau penghasilan kecil, misalnya “UMR Jogja” tapi gaya hidup mengikuti standar ibu kota, hampir pasti keuangan bakal “sesak”.

Self-Reward dan Pelarian dari Stres

Kadang, gaya hidup mahal bukan cuma soal status sosial, tapi juga cara untuk “melarikan diri” dari stres.

Orang dengan beban kerja dan gaji pas-pasan bisa tergoda untuk “reward diri” dengan membeli hal-hal yang menyenangkan (nongkrong, belanja, hiburan).

Tapi bila dilakukan terus menerus tanpa batas, ini bisa jadi lingkaran konsumtif: stres → belanja → stres lagi gara-gara keuangan bocor.

Apa Bahayanya Kalau Gaya Hidup Tak Sesuai Pendapatan?

• Bisa membuat seseorang mengalami ketidakstabilan finansial, utang, atau bahkan krisis ekonomi pribadi ketika kebutuhan hidup pokok terpenuhi tapi gaya hidup terus “ngegas.”

• Kesenjangan harapan vs realita bisa memunculkan frustrasi, rasa malu, minder, atau bahkan stress karena “tidak mampu tampil sesuai standar.”

• Mengurangi kemampuan menabung atau berinvestasi jangka panjang — padahal literasi keuangan dan tabungan penting untuk masa depan.

Bagaimana Menghindari “Gaya Hidup DKI Jakarta, Gaji UMR Jogja” Agar Hidup Tetap Seimbang

1. Tingkatkan literasi keuangan: pahami alur pemasukan-pengeluaran, pisahkan kebutuhan dan keinginan.

2. Bijak dalam menggunakan media sosial: jangan jadikan konten “highlight reel” orang lain sebagai standar gaya hidupmu.

3. Prioritaskan kebutuhan primer dan masa depan (tabungan, dana darurat) daripada mengikuti tren gaya hidup.

4. Kelilingi diri dengan lingkungan yang realistis, tidak menekan dengan ekspektasi konsumtif.

5. Sadari bahwa “tampil keren” bukan selalu identik dengan mahal — banyak gaya hidup sederhana tapi bermakna.

Gaya hidup ala ibu kota dengan pendapatan pas-pasan memang terlihat menarik dan “terangkat” di media sosial.

Namun di balik itu, ada risiko besar bagi stabilitas keuangan dan psikologis. Untuk menghindari jebakan gaya hidup konsumtif, kuncinya adalah sadar finansial, bijak memilih lingkungan sosial, dan menghargai kebutuhan sesungguhnya. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Tekanan sosial #gaya hidup #kesehatan mental #UMR Jogja #DKI Jakarta #konsumtif