RADARTUBAN – Hujan tanpa jeda yang mengguyur Pulau Sumatra pada penghujung November 2025 kembali memicu banjir besar di sejumlah daerah.
Air sungai yang tidak mampu menahan debit tinggi meluap dan menggenangi kawasan padat penduduk, terutama di Sumatra Utara, Aceh, dan Sumatra Barat.
Tak hanya disebabkan cuaca ekstrem, kerusakan hutan di wilayah hulu serta buruknya sistem drainase membuat air langsung menerjang permukiman.
BMKG bahkan mengingatkan bahwa musim hujan tahun ini berpotensi berlangsung lebih panjang dan lebih intens hingga awal 2026.
Fenomena banjir kali ini seolah kembali membuka lembaran lama bahwa Indonesia memiliki sejarah panjang soal bencana banjir besar.
Berikut rangkaian banjir terbesar yang pernah melanda Tanah Air.
Curah Hujan Ekstrem dan Kerusakan Hutan Perparah Risiko
BMKG mencatat hampir seluruh wilayah Indonesia telah memasuki puncak musim hujan.
Data jaringan stasiun BMKG yang dirangkum BPS menunjukkan kawasan Indonesia Timur menjadi lokasi dengan curah hujan tertinggi, dipengaruhi oleh bentang alam pegunungan dan karakter hutan hujan tropis.
Kondisi tersebut membuat beberapa daerah memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap banjir dan tanah longsor.
Rekam Jejak Banjir Terparah Sepanjang Sejarah Indonesia
1. Banjir Jambi 1955 – 80 Persen Rumah Tenggelam, Sawah 42 Ribu Hektare Rusak
Menurut catatan LIPI, Jambi berulang kali dilanda banjir besar. Namun, peristiwa pada Januari–Februari 1955 menjadi yang paling menghancurkan. Hujan tanpa henti selama sepuluh hari membuat Sungai Muara Tembesi meluap hingga empat meter.
Dampak banjir 1955:
- 80% rumah penduduk terendam
- Ribuan warga mengungsi
- 42 ribu hektare sawah siap panen rusak berat
- 6 ribu hektare sawah muda hancur
2. Banjir Bandang Bohorok 2003 – 157 Meninggal, 82 Orang Hilang
Tragedi 2 November 2003 menjadi salah satu bencana terbesar di Sumatera Utara. Luapan Sungai Bohorok membawa gelondongan kayu dari hulu, menyapu kawasan wisata Bukit Lawang dan permukiman sekitarnya.
Korban:
- 157 meninggal
- 82 orang hilang
Penyebab dominan berasal dari pembalakan liar yang mengikis kemampuan tanah menyerap air.
3. Banjir Jakarta 2007 & 2009 – 60 Persen Kota Lumpuh
Awal Februari 2007 menjadi salah satu banjir paling parah sepanjang sejarah Jakarta. Hujan deras membuat 13 sungai besar meluap, merendam hampir seluruh ibu kota.
Dampak banjir Jakarta 2007:
- 60% wilayah terendam
- 80 korban meninggal
- Kerugian mencapai Rp 4,3 triliun
- 320 ribu warga terpaksa mengungsi
Dua tahun kemudian, banjir kembali melumpuhkan Jakarta, terutama di kawasan Kelapa Gading dan Jakarta Utara.
4. Banjir Wasior 2010 – Bencana Besar Menghantam Papua Barat
Pada 4 Oktober 2010, Wasior mengalami banjir bandang hebat. Sungai Batang Salai meluap setelah diguyur hujan sejak 2 Oktober, membawa lumpur dan kayu besar yang menghancurkan fasilitas umum.
Kerusakan:
- Bandara kecil rusak
- Rumah sakit dan sekolah tergulung lumpur
- Rumah penduduk serta jembatan hancur
Korban:
- 158 meninggal
- 145 hilang
5. Banjir Tangse Aceh 2011 – Kayu Gelondongan Percepat Kerusakan
Pada 10 Maret 2011, banjir besar melabrak Tangse, Kabupaten Pidie, Aceh. Air bah yang membawa kayu gelondongan dari hulu menerjang rumah warga dan fasilitas publik.
Dampak:
- 24 meninggal
- Lebih dari 100 rumah rusak berat hingga ringan
6. Banjir Besar Sumatera 2025 – Terparah dalam Satu Dekade
Rangkaian banjir besar yang melanda Sumatra pada November 2025 tercatat sebagai salah satu bencana hidrometeorologi paling mematikan dalam sepuluh tahun terakhir.
Pemicu utama:
- Hujan ekstrem berkepanjangan
- Hutan hulu rusak
- Drainase permukiman buruk
Dampak banjir Sumatera 2025:
- 631 korban meninggal
- 472 orang hilang
- 1,02 juta warga mengungsi
- 3,32 juta penduduk terdampak
Ancaman yang Tak Boleh Dianggap Sepele
Berderetnya bencana banjir besar di Indonesia menegaskan bahwa risiko hidrometeorologi semakin meningkat. Kerusakan lingkungan, tata ruang yang tidak tepat, serta perubahan iklim memperbesar ancaman di masa depan.
Diperlukan langkah pencegahan jangka panjang dan penataan wilayah yang serius agar sejarah kelam ini tidak terus terulang. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni