RADARTUBAN – Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Tuban terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong tumbuhnya industri lokal.
Salah satunya adalah industri briket berbahan limbah kulit siwalan dan kelapa yang kini digarap serius oleh Miracle Carbon Indonesia (MCI).
Usaha yang beroperasi di Desa Kapu, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban ini tidak hanya berkembang pesat, tetapi juga mulai menembus pasar nasional dan internasional, dengan target ekspor mandiri pada tahun kelima pendampingan.
Owner MCI Latif Wahyudi mengatakan, pendampingan Pertamina untuk MCI telah dimulai sejak 2023.
Pada tahap awal, dukungan diberikan melalui pelatihan dasar dan penguatan struktur usaha.
Baca Juga: Limbah Siwalan Disulap Jadi Briket Bernilai Tinggi, Pertamina Luncurkan Program Kang Ebit
Memasuki 2025, program ini naik kelas menjadi salah satu fokus utama CSR Fuel Terminal Tuban.
Alokasi CSR pun diperbesar, khususnya untuk pengembangan sumber daya manusia yang dianggap sebagai fondasi utama keberlanjutan usaha.
"CSR diwujudkan melalui sejumlah pelatihan yang digelar intensif, mulai dari K3, peningkatan skill produksi, hingga pembekalan pemasaran," ungkap dia.
Pertamina juga memfasilitasi sosialisasi produk ke calon pembeli dari berbagai segmen—rumah tangga, UMKM kuliner, peternakan, hingga sektor industri.
Tidak hanya itu, edukasi pasar dilakukan agar briket MCI semakin mudah dikenali dan diterima konsumen.
Satu hal yang menjadi pembeda, kata pemuda yang akrab disapa Latif tersebut, seluruh dukungan Pertamina diberikan bukan dalam bentuk uang tunai.
Bantuan difokuskan pada program pengembangan usaha, pengadaan mesin produksi, fasilitas pergudangan, hingga sertifikasi yang diperlukan untuk menembus pasar ekspor.
"Tim CSR Fuel Terminal Tuban juga rutin turun lapangan memastikan perkembangan usaha berjalan sesuai road map," ungkap lulusan Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI) tersebut.
Kapasitas Produksi Meningkat Pesat
Kapasitas produksi MCI kini mencapai 750 kilogram hingga 1 ton per hari.
Jika dikalkulasi dalam satu bulan, total produksi menembus kisaran 15 ton.
Angka ini jauh meningkat dibandingkan sebelum pendampingan dimulai, dan diproyeksikan terus naik seiring modernisasi mesin dan peningkatan kompetensi tenaga kerja.
Pasar Nasional hingga Internasional
Briket MCI telah merambah pasar di kota-kota besar seperti Surabaya, Jakarta, dan Bali.
Bahkan, produk ini sudah memiliki jalur pasar ekspor ke India dan Timor Leste.
Dukungan Pertamina dalam hal legalitas, perizinan, serta sertifikasi kualitas menjadi pintu pembuka memasuki pasar luar negeri.
"Targetnya, sebelum lima tahun pendampingan dari Pertamina, MCI ini sudah diekspor secara luas ke berbagai negara,'' ungkap Juara 1 Tubernova Award 2022 ini.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Hadirkan Kang Ebit: Inovasi Eco-Briket di Tuban
Keunggulan Produk
Briket berbahan limbah kulit siwalan dan kelapa ini memiliki sejumlah keunggulan.
Daya bakarnya stabil, menghasilkan panas merata, serta minim asap.
Pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai tinggi juga menjadikan MCI sebagai usaha yang selaras dengan prinsip ekonomi sirkular dan ramah lingkungan.
Saat ini, usaha tersebut memberdayakan sedikitnya 14 warga Desa Kapu dan sekitarnya, menciptakan lapangan kerja baru sekaligus meningkatkan ekonomi lokal.
Sarjana Teknik Kimia UISI itu menegaskan, pendampingan dari Pertamina ini menjadi faktor akselerasi utama perkembangan MCI.
“Kami merasakan manfaat yang sangat besar. Usaha bisa berkembang dua hingga tiga kali lebih cepat dibandingkan sebelum mendapatkan pendampingan dari Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Tuban,” ujar Latif.
Perjalanan MCI sendiri bermula dari prestasi Juara 1 Tubernova 2021 dan Inotek Award Jawa Timur 2022, yang kemudian mengantarkan usaha ini semakin serius menggarap industri briket.
Dengan pendampingan yang berkelanjutan, penguatan teknologi, dan perluasan pasar, MCI ditargetkan dapat mencapai ekspor mandiri pada tahun kelima.
Pertamina berharap model pendampingan ini menjadi contoh bahwa desa mampu melahirkan industri inovatif yang berdaya saing global. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama