RADARTUBAN - Setiap tanggal 5 Desember, dunia memperingati Hari Tanah Sedunia (World Soil Day/WSD).
Tahun 2025 jatuh pada hari Jumat, dan peringatan ini kembali mengingatkan kita bahwa tanah bukan sekadar pijakan, melainkan fondasi kehidupan.
Tanah yang sehat adalah sumber pangan, air bersih, dan keseimbangan ekosistem. Tanpa tanah yang terjaga, manusia kehilangan akar kehidupannya.
Hari Tanah Sedunia hadir sebagai sarana untuk memfokuskan perhatian pada pentingnya merawat tanah, bukan hanya untuk generasi sekarang, tetapi juga untuk masa depan.
Baca Juga: Konflik Satwa dan Manusia: Tragedi yang Timbul Akibat Hutan yang Hilang dan Kehilangan Habitat
Tanah: Penopang Kehidupan yang Sering Terlupakan
Kita sering menganggap tanah hanya sebagai lahan untuk ditanami atau dibangun.
Padahal, tanah adalah ekosistem kompleks yang menyimpan jutaan mikroorganisme, menjaga siklus air, dan menjadi penopang utama pertanian.
Tanah yang rusak berarti pangan terancam, air bersih berkurang, dan bencana ekologis semakin sering terjadi.
Ironisnya, meski begitu vital, tanah sering diperlakukan semena-mena: digunduli, dicemari limbah, atau dikeringkan demi kepentingan jangka pendek.
Merawat dari Akar Permasalahan
Hari Tanah Sedunia bukan sekadar ajakan menanam pohon atau menutup lahan dengan hijau.
Ia mengingatkan kita untuk melihat akar permasalahan: deforestasi, penggunaan pestisida berlebihan, eksploitasi tambang, hingga pembangunan yang tidak ramah lingkungan.
Merawat tanah berarti mengubah cara kita memperlakukan bumi. Dari pola konsumsi, kebijakan pemerintah, hingga kesadaran masyarakat. Tanah sehat tidak lahir dari slogan, tapi dari tindakan nyata.
Kesetiaan pada Tanah = Kesetiaan pada Hidup
Tanah yang sehat adalah jaminan masa depan. Ia menyediakan pangan, menjaga air, dan memberi ruang bagi keanekaragaman hayati. Merawat tanah sama artinya dengan merawat hidup.
Hari Tanah Sedunia adalah pengingat bahwa kita tidak bisa terus menunda. Karena kalau tanah rusak, tidak ada teknologi yang bisa sepenuhnya menggantikan perannya. Kesetiaan pada tanah adalah kesetiaan pada kehidupan itu sendiri.
Hari Tanah Sedunia pada Jumat, 5 Desember 2025 adalah momentum untuk kembali menyoal akar permasalahan kerusakan lingkungan. Tanah bukan sekadar pijakan, melainkan fondasi kehidupan.
Merawat tanah berarti merawat masa depan. Dan jika kita abai, jangan salahkan siapa pun ketika bumi akhirnya menagih balas dengan bencana. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni