RADARTUBAN - Di tengah pertemuan para ulama dan pakar hadis dari berbagai negara, suara Indonesia terdengar lantang dan strategis.
Menteri Agama Nasaruddin Umar memanfaatkan panggung Konferensi Lembaga Hadis ke-5 di Madinah untuk menyampaikan usulan yang sederhana namun dampaknya bisa sangat besar: memasukkan terjemahan bahasa Indonesia ke dalam platform digital hadis yang dikembangkan King Salman Complex for the Prophetic Sunnah.
Usulan itu disampaikan bukan sebagai tamu biasa. Nasaruddin hadir dalam kapasitasnya sebagai penasihat Lembaga Hadits di Madinah, sekaligus satu-satunya tokoh dari kawasan Asia yang duduk di Dewan Pengawas Lembaga Hadits Kerajaan Arab Saudi.
Dalam forum selevel ini, suaranya bukan sekadar representasi Indonesia, tetapi representasi kawasan.
Menurutnya, terjemahan Indonesia menjadi kebutuhan mendesak.
Jumlah penduduk muslim di Indonesia sangat besar, dan akses mereka terhadap literatur hadis yang kredibel perlu dipermudah.
“Usulan ini mendapat perhatian positif dari para peserta konferensi dan menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi antara Indonesia dan Arab Saudi dalam pengembangan studi hadis,” ujar Nasaruddin dikutip dari laman Kemenag.go.id.
Indonesia Siap Berperan di Tingkat Global
Dalam paparannya, Menag menegaskan kesiapan Indonesia untuk tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mitra aktif dalam pengembangan dan pemeliharaan Sunnah Nabi Muhammad SAW di level internasional.
“Tawaran kerja sama dan usulan terjemahan bahasa Indonesia menjadi langkah penting untuk meningkatkan akses, kualitas, dan jangkauan kajian hadis di Indonesia dan dunia,” tegasnya.
Indonesia tidak datang dengan tangan kosong. Menag membawa tawaran konkret yang menyasar penguatan tradisi hafalan hadis secara global.
Ajukan Indonesia sebagai Tuan Rumah Musabaqah Internasional
Di hadapan para pemangku kebijakan King Salman Complex, Menag menawarkan kemitraan strategis: penyelenggaraan Musabaqah Hafalan Hadis tingkat internasional, dengan Indonesia siap menjadi tuan rumah.
“Kami menyambut baik sepenuhnya inisiatif Musabaqah Internasional Hafalan Hadis Nabi yang Mulia. Inisiatif ini sangat sejalan dengan upaya-upaya yang terus dilakukan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia secara berkelanjutan,” kata Imam Besar Masjid Istiqlal itu.
Indonesia sendiri memiliki rekam jejak kuat. Setiap dua tahun, Kemenag rutin menggelar kompetisi hafalan hadis tingkat nasional—termasuk hafalan 100 hadis Shahih Bukhari lengkap sanad, hingga 500 hadis beserta syarahnya.
Berdasarkan pengalaman itu, Menag menawarkan dua bentuk kerja sama. Yakni, Musabaqah Hadis tingkat internasional dengan Indonesia sebagai tuan rumah.
Serta, dukungan hadiah dan penghargaan dari King Salman Complex untuk para juara musabaqah nasional di Indonesia.
“Kami berharap penghargaan ini dapat memperkaya kecintaan generasi muda terhadap Hadis Nabi serta memperluas penyebaran nilai-nilai hadis di tengah masyarakat,” harapnya.
Dengan usulan terjemahan, tawaran kemitraan, dan kesiapan menjadi pusat kegiatan internasional, Indonesia menegaskan diri bukan hanya konsumen literatur hadis, tetapi bagian dari motor penggerak perkembangan ilmu hadis dunia. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni