RADARTUBAN- Kisah yang paling menonjol adalah pasangan pengantin yang seharusnya merayakan hari bahagia dengan resepsi yang tidak memiliki hidangan.
Bukan hanya tamu yang bingung karena peristiwa ini, tetapi juga nama pemilik Wedding Organizer, Ayu Puspita, yang kini ramai dituduh melakukan penipuan.
Setelah rumahnya didatangi para korban yang merasa dirugikan, Ayu Puspita akhirnya angkat bicara.
Pengakuannya memicu kehebohan baru, apalagi ia dituding menggunakan uang klien untuk membeli rumah mewah dan berlibur ke luar negeri.
Pengakuan Ayu Puspita bukan hanya menyingkap fakta baru soal resepsi tanpa katering, tapi juga membuat amarah para pasangan yang pernah menggunakan jasanya semakin membara.
Kasus ini mulai jadi sorotan setelah sebuah pesta pernikahan di Jakarta pada Sabtu (6/12) berlangsung tanpa makanan maupun minuman untuk para tamu.
Saat resepsi di Gedung Pelindo, Jakarta Utara, Samuel, salah satu pengantin yang menjadi korban, berbagi kisah sulitnya.
Ayu Puspita adalah seorang pengorganisir pernikahan yang bertanggung jawab atas semua aspek persiapan pernikahan, termasuk venue, dekorasi, katering, dan dokumentasi.
Untuk mempromosikan usahanya, ia mencantumkan nomor kontak hingga akun Instagram @byayupuspitaa, dengan alamat operasional di Jl. H. Siun 2C No. 51A, Ceger, Jakarta Timur.
Resepsi gagal total bikin nama Ayu Puspita viral. Para korban kemudian menyerbu rumahnya dan menuntut pertanggungjawaban.
Rumah mewah yang kini ditempati Ayu Puspita disebut-sebut dibeli dari uang para klien. Ironisnya, pihak RT dan RW setempat mengaku baru mengetahui keberadaannya.
Dalam pengakuannya, Ayu tak menampik bahwa manajemen keuangan bisnisnya benar-benar berantakan.
Ayu Puspita mengaku menggunakan dana dari klien baru serta hasil pameran untuk menutup biaya acara sebelumnya.
Skema itu akhirnya runtuh dan menimbulkan kerugian besar. Ratusan pasangan pengantin yang menjadi korban pun merasa sangat terpukul.
Banyak pasangan rela menabung bertahun-tahun demi mewujudkan pesta pernikahan impian.
Namun, harapan indah itu berubah jadi kenyataan pahit ketika dana yang mereka kumpulkan justru hilang begitu saja.
Dana yang seharusnya dipakai untuk mewujudkan pesta pernikahan para klien, justru disebut dialihkan untuk kepentingan pribadi mulai dari liburan ke luar negeri hingga membeli rumah mewah. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni