RADARTUBAN - Setiap tanggal 11 Desember, dunia memperingati Hari Gunung Internasional.
Peringatan ini menjadi ajakan global untuk melindungi dan menjaga ekosistem pegunungan.
Gunung bukan sekadar lanskap indah yang memanjakan mata, melainkan penyangga kehidupan yang menyediakan air, pangan, dan keseimbangan ekologi.
Hari ini mengingatkan kita bahwa menjaga gunung berarti menjaga masa depan manusia.
Baca Juga: Dokter Ungkap Risiko Hipertensi Paru Akibat Mendaki Gunung di Dataran Tinggi
Gunung sebagai Sumber Kehidupan
Gunung adalah sumber utama air tawar dunia, menghasilkan sekitar 70% pasokan yang menopang kehidupan di dataran rendah.
Pegunungan juga menjadi rumah bagi berbagai flora dan fauna unik, sekaligus mendukung pertanian melalui kesuburan tanah dan aliran air yang stabil.
Tanpa gunung yang sehat, rantai kehidupan akan terganggu, dari ekosistem hutan hingga kebutuhan pangan manusia.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Gerak Cepat Salurkan Bantuan Bagi Masyarakat Terdampak Erupsi Gunung Semeru
Pegunungan dan Manusia
Selain fungsi ekologis, gunung juga memiliki peran sosial dan budaya. Ia menjadi rumah bagi masyarakat adat dan komunitas lokal yang hidup berdampingan dengan alam.
Gunung menyediakan sumber ekonomi melalui pariwisata alam, pertanian, dan hasil hutan.
Lebih dari itu, gunung memberi manfaat non-material: ketenangan batin, kesehatan mental, spiritualitas, hingga ruang petualangan. Gunung bukan hanya sumber materi, tetapi juga sumber makna.
Ancaman Serius terhadap Gunung
Sayangnya, ekosistem pegunungan menghadapi ancaman serius. Deforestasi merusak hutan pegunungan, tambang yang tidak berkelanjutan menggerus tanah, dan perubahan iklim menyebabkan gletser mencair serta habitat punah.
Overtourism dan sampah pendaki juga memperburuk kondisi. Gunung yang rusak berarti hilangnya penyangga kehidupan, dan dampaknya akan dirasakan jauh hingga ke kota-kota besar.
Dampak Kerusakan Gunung
Kerusakan gunung membawa konsekuensi nyata. Krisis air menjadi ancaman utama, diikuti banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah bawah.
Masyarakat sekitar kehilangan sumber ekonomi, sementara keanekaragaman hayati perlahan punah. Gunung yang rusak bukan hanya kehilangan keindahan, tetapi juga kehilangan fungsi vitalnya bagi kehidupan manusia.
Aksi Nyata yang Bisa Dilakukan
Menjaga gunung membutuhkan aksi nyata. Mendukung pariwisata berkelanjutan adalah langkah penting, begitu pula dengan tidak membuang sampah di gunung.
Penanaman pohon dan pemulihan lahan kritis harus terus dilakukan, disertai edukasi lingkungan bagi generasi muda.
Mendukung produk dan usaha ramah lingkungan juga menjadi bagian dari upaya menjaga ekosistem pegunungan. Perubahan tidak bisa hanya datang dari kebijakan, tetapi juga dari kesadaran masyarakat.
Konteks Indonesia
Indonesia adalah negara dengan ratusan gunung, banyak di antaranya aktif. Gunung memiliki peran historis dan budaya yang kuat, dari mitos hingga simbol perjuangan.
Namun, tantangan besar juga hadir: tambang yang merusak pegunungan, kebakaran hutan, hingga sampah pendakian yang menumpuk.
Semua ini menunjukkan bahwa menjaga gunung di Indonesia bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak.
Gunung bukan sekadar tempat wisata, melainkan penyangga kehidupan. Menjaganya berarti menjaga masa depan manusia.
Hari Gunung Internasional adalah pengingat bahwa kita tidak bisa terus menunda. Karena ketika gunung rusak, bukan hanya alam yang kehilangan, tetapi juga manusia yang akan menanggung akibatnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni