RADARTUBAN - Fenomena Tiga Lokasi Paling Rawan Kekerasan di Jatim kembali mencuat setelah data terbaru menunjukkan meningkatnya kekerasan terhadap perempuan dan anak di wilayah Jawa Timur.
Situasi ini menegaskan bahwa ancaman kekerasan tidak lagi terpusat pada satu ruang tertentu, melainkan menyebar di area yang selama ini dianggap aman, bahkan di lingkup keluarga sendiri.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran publik terhadap keamanan perempuan dan anak di berbagai titik aktivitas sehari-hari.
Kekerasan Meningkat, Ancaman Menguat di Ruang-Ruang Sehari-Hari
Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur, Sri Untari Bisowarno, menyampaikan bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak terus mengalami peningkatan.
Ia memaparkan bahwa lebih dari 2.800 kasus tercatat di wilayah tersebut, dan angka ini menunjukkan tren yang konsisten naik setiap tahun.
Menurutnya, situasi ini menunjukkan bahwa penguatan perlindungan dan pencegahan harus menjadi prioritas seluruh pemangku kepentingan.
Dari total kasus yang ada, sekitar 600 di antaranya menimpa pelajar SMA. Sri Untari menilai bahwa fakta ini harus menjadi alarm serius bagi lembaga pendidikan karena lingkungan yang seharusnya menjadi ruang tumbuh justru menghadirkan potensi ancaman baru.
Lingkungan Keluarga Menjadi Area Paling Rawan Terjadinya Kekerasan
Dalam pemaparannya, Sri Untari menyoroti lingkungan keluarga sebagai lokasi paling sering munculnya kasus.
Ia menyebut hal ini sebagai kenyataan yang ironis karena rumah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi perempuan dan anak.
“Pelakunya bisa saudara sendiri, misalnya paman, tetangga dekat, atau bahkan kakek. Yang jelas, keluarga dekat yang harusnya jadi tempat paling aman, justru menjadi lokasi terjadinya kekerasan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut semakin menegaskan bahwa lingkungan keluarga tidak bisa lagi dianggap sebagai zona perlindungan mutlak.
Situasi ini menjadi salah satu alasan mengapa Tiga Lokasi Paling Rawan Kekerasan di Jatim perlu dipetakan dan ditangani secara lebih sistematis.
Sekolah dan Ruang Publik Masuk dalam Peta Kerawanan
Selain lingkungan keluarga, dua lokasi lain yang mendominasi kasus adalah ruang publik serta sekolah.
Pola serupa terlihat dalam berbagai laporan masyarakat, di mana aksi kekerasan terhadap perempuan dan anak tak jarang terjadi di tempat umum yang padat aktivitas maupun di area sekolah yang belum memiliki sistem pengamanan komprehensif.
Sri Untari menjelaskan bahwa tiga lokasi tersebut, lingkungan keluarga, sekolah, dan tempat umum, menjadi titik paling rentan dalam peta kekerasan di Jawa Timur.
Penegasan ini kembali menjadikan Tiga Lokasi Paling Rawan Kekerasan di Jatim sebagai isu utama yang perlu perhatian serius.
Upaya Sekolah Membentuk Tim Pencegahan Kekerasan
Sebagai salah satu upaya mengurangi risiko, sejumlah sekolah telah membentuk tim pencegahan kekerasan.
Langkah ini diharapkan mampu memberikan perlindungan tambahan, mengingat pelajar menjadi kelompok rentan yang tak jarang terlibat dalam lingkaran kekerasan.
“Sekolah sekarang sudah membentuk tim pencegahan kekerasan. Ini sedang terus dimaksimalkan untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jawa Timur,” tegas Sri Untari.
Meski demikian, tren kasus yang terus meningkat menunjukkan perlu adanya evaluasi menyeluruh terhadap efektivitas langkah-langkah yang telah diambil.
Urgensi Pengawasan Bersama
Dengan mengemukanya kembali persoalan Tiga Lokasi Paling Rawan Kekerasan di Jatim, berbagai elemen masyarakat diharapkan dapat terlibat secara aktif dalam menciptakan lingkungan aman.
Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, serta masyarakat umum perlu memperkuat langkah pencegahan melalui edukasi, literasi kesadaran, dan deteksi dini.
Kasus yang terus bertambah menunjukkan bahwa perlindungan terhadap perempuan dan anak bukan sekadar isu sektoral, melainkan menyangkut hajat hidup orang banyak dan menjadi pekerjaan bersama seluruh elemen masyarakat (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni