RADARTUBAN - Menjelang akhir tahun 2025, banyak orang membayangkan adanya liburan, berkumpul bersama keluarga, dan mempersiapkan rencana menyambut awal tahun 2026.
Namun, realita yang terjadi justru sebaliknya. Akhir tahun juga bisa dilanda bencana, yang mengharuskan kita untuk selalu waspada dan siap siaga.
Dilansir dari detik.com, berbagai wilayah di Indonesia, terutama Pulau Sumatera termasuk Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat baru saja dilanda banjir bandang dan tanah longsor.
Sementara itu, di luar negeri, gempa dengan Magnitudo 7,5 mengguncang wilayah Jepang sehingga peringatan tsunami muncul dan kemudian dicabut pada Selasa (9/12).
Kondisi tersebut menjadi pengingat bagi kita untuk mempersiapkan diri sedini mungkin dan selalu waspada dimanapun kita berada.
Banjir dan Longsor di Sumatera Masih Membayangi
Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar telah menyebabkan banyak korban jiwa.
Menurut data terakhir per 5 Desember 2025, tercatat 867 orang meninggal akibat bencana di ketiga wilayah tersebut, dan sewaktu-waktu data bisa berubah.
Per 6 Desember 2025, data korban meninggal mencapai 914 jiwa.
Selain korban meninggal, ribuan warga mengungsi, mengalami luka-luka, bahkan ada yang dinyatakan hilang dan belum ditemukan.
Berbagai fasilitas umum juga terdampak.
Situasi ini menunjukkan bahwa bencana dapat terjadi tanpa aba-aba, dan dampaknya bisa sangat luas.
Gempa Magnitudo 7,5 Jepang
Pada Senin (8/12) malam, gempa Magnitudo 7,5 terjadi di lepas Pantai Aomori, timur laut Jepang, dengan kedalaman sekitar 54 km. Pusat gempa diperkirakan berjarak sekitar 80 km dari Pantai.
Gempa tersebut menyebabkan tsunami yang relatif kecil (20-70 cm), dan sempat dikeluarkan peringatan.
Catatan awal gempa yakni M 7,6 sebelum kemudian direvisi menjadi M 7,5. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada
Perlunya Kesiagaan Bahkan Saat Tidak Terjadi Krisis
Situasi di Sumatera dan Jepang menunjukkan dua hal penting yang harus diperhatikan.
Pertama, bencana alam bisa datang tiba-tiba, entah dalam bentuk apa dan apa penyebabnya.
Kedua, dampak dari bencana bisa sangat luas, terutama dalam hal korban jiwa, pengungsian, serta dampaknya pada infrastruktur dan fasilitas umum sehari-hari.
Itulah mengapa kesiagaan diperlukan bahkan saat tidak dalam masa krisis.
Langkah Persiapan yang Bisa Dilakukan
1. Menyiapkan Tas Siaga Bencana
Siapkan tas siaga yang berisi 2-3 pasang pakaian, makanan tahan lama (contohnya biskuit), air minum, obat-obatan (P3K), powerbank, senter, peluit, jaket, dokumen penting, uang tunai, dan barang penting lainnya.
Letakkan tas siaga di tempat yang mudah dijangkau, contohnya di dekat pintu masuk rumah.
1. Menyiapkan Tabungan Darurat
Tabungan ini bisa dalam bentuk tunai maupun non-tunai. Berguna di saat-saat mendesak atau mendadak seperti masa evaluasi, pengobatan, logistik, atau biaya untuk hal lain yang tak terduga.
1. Memantau Informasi Secara Berkala
Pantau Informasi terkait keadaan cuaca dan situasi di luar melalui laman resmi, contohnya BMKG, dan di media sosial maupun komunitas lokal.
Jika memungkinkan, bantu sebarkan informasi kepada orang-orang terdekat atau yang bisa dijangkau. Karena beberapa orang mungkin memiliki akses informasi yang terbatas.
1. Meningkatkan Literasi Kebencanaan
Perbanyak membaca tentang persiapan menghadapi bencana, cara evakuasi yang tepat, maupun rencana komunikasi di saat tidak terduga. Ini akan berguna.
Akhir tahun 2025 memberi kita pelajaran penting bahwa bahaya bisa datang kapan saja. Yang harus kita lakukan adalah meningkatkan kesiagaan, perencanaan, dan kewaspadaan kapanpun itu.
Selain itu, kita juga memiliki tanggung jawab bersama untuk saling mengingatkan, membantu, dan bersiap menghadapi apapun yang terjadi.
Semoga saudara kita khususnya di Aceh dan Sumatera mendapatkan perlindungan dan kekuatan dalam menghadapi situasi ini. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni