RADARTUBAN- Hidup selalu memberi kita surprises. Seorang kakek sederhana dari Secang, Magelang, Mbah Sugito mendadak menjadi miliarder pada usia 90 tahun.
Sawah yang selama ini jadi sumber nafkahnya dibebaskan untuk proyek Tol Jogja-Bawen, membawa rezeki besar yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Bayangkan bahwa tanah sawah 2.854 meter persegi yang dimiliki Mbah Sugito dihargai oleh negara dengan nilai luar biasa, lebih dari Rp 3,24 miliar, dengan harga sekitar Rp 1,14 juta per meter, jauh di atas harga pasar.
Bagi seorang petani, jumlah itu adalah sumber rezeki yang tak terduga.
Harga tanah sawah Mbah Sugito benar-benar fantastis jika dibandingkan dengan harga pasar.
Keluarganya mengatakan bahwa harga tanah di daerah pinggir jalan biasanya hanya sekitar Rp 500 ribu per meter persegi, sementara harga tanah di daerah lebih dalam biasanya berkisar antara Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu per meter persegi.
Proses pembayaran ganti untung untuk tanah Mbah Sugito berlangsung sederhana namun penuh makna.
Bertempat di Balai Desa Candisari, Kecamatan Secang, pada Selasa (9/12), momen itu menjadi saksi bagaimana jerih payah seorang petani akhirnya berbuah rezeki besar yang tak pernah ia bayangkan.
Keluarga Mbah Sugito terkejut dan bersyukur atas kenaikan harga tanah. Putra keempat Nahrowi yang berusia 43 tahun mengatakan perasaan mereka saat ini berbeda-beda.
Ada rasa sedih karena harus meninggalkan wilayah yang penuh dengan kenangan, rasa sedih karena kehilangan sumber penghidupan, dan rasa bahagia karena ada rezeki besar yang datang dengan cepat.
Perasaan keluarga sangat beragam. Ada rasa kecewa dan kesedihan, tetapi apa daya, pemerintah pusat telah mengatur semua ini.
"Sawah yang harus dilepas itu bukan sekadar tanah, melainkan sumber penghasilan utama bagi Mbah Sugito dan keluarga," ungkap Nahrowi, putra keempat, penuh rasa haru.
Sawah di Desa Candisari milik Mbah Sugito memang terkenal subur. Dari tanah itu, panen terakhir bahkan menghasilkan 1,7 ton padi—buah kerja keras yang jadi sumber nafkah keluarga.
Karena itu, mereka berharap masih diberi kesempatan untuk memanen hasil terakhir sebelum sawah benar-benar dilepas.
Padi di sawah itu sebenarnya baru berusia sekitar sebulan. Masih ada waktu hingga panen tiba.
Karena itulah, Nahrowi berharap keluarga diberi kesempatan untuk memanen hasil terakhir dari jerih payah mereka sebelum sawah benar-benar dilepas.
Pembebasan lahan untuk Tol Jogja-Bawen masih dalam proses di balik cerita Mbah Sugito.
Menurut Adi Cahyanto, anggota panitia pengadaan tanah BPN Kabupaten Magelang, pada hari itu saja, total pembayaran mencapai Rp 28,7 miliar.
Adi Cahyanto menjelaskan, total ganti rugi yang dibayarkan hari itu mencapai sekitar Rp 28,7 miliar untuk lahan seluas 2,4 hektare. Angka tertinggi bahkan menyentuh Rp 4,7 miliar di Desa Purwodadi.
Proses pembayaran sendiri belum selesai, karena minggu depan giliran warga Desa Kalikuto, Kecamatan Grabag, yang akan menerima hak mereka. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni