RADARTUBAN - Fenomena Harga Pangan Terdampak La Niña mulai menjadi perhatian serius di Jawa Timur setelah munculnya peringatan dari berbagai lembaga, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Peringatan ini tidak hanya terkait cuaca, tetapi juga menyangkut hajat hidup masyarakat luas yang sangat bergantung pada stabilitas pasokan dan distribusi pangan.
Meningkatnya curah hujan tinggi dan potensi cuaca ekstrem diperkirakan dapat memengaruhi lahan pertanian, transportasi, hingga ketahanan pangan menjelang awal 2026.
Baca Juga: Pertengahan Agustus Berpotensi Ada Hujan di Tuban karena La Nina
Peringatan Dini BMKG dan DPRD Jatim
Wakil Ketua Komisi D DPRD Jawa Timur, Khusnul Arif, menegaskan bahwa fenomena La Niña harus dipahami sebagai ancaman yang tidak bisa dianggap sepele.
“Perlu diwaspadai karena BMKG telah mengeluarkan informasi potensi La Niña yang diprediksi muncul akhir tahun 2025 hingga awal 2026,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Dengan prediksi curah hujan tinggi yang berpotensi berlangsung panjang, risiko cuaca ekstrem semakin besar, termasuk banjir dan tanah longsor yang secara langsung dapat berdampak pada sentra produksi pangan di Jawa Timur.
Kondisi ini memperkuat potensi Harga Pangan Terdampak La Niña di berbagai wilayah.
Baca Juga: La Nina Bikin Kemarau tetap Hujan
Risiko pada Pertanian dan Distribusi Pangan
Menurut Khusnul, masyarakat harus memahami langkah mitigasi bencana secara serius karena La Niña selama ini identik dengan curah hujan tinggi dan gangguan hidrometeorologi.
“La Niña sering menyebabkan peningkatan curah hujan signifikan yang memicu banjir dan tanah longsor,” tuturnya.
Curah hujan yang berlarut-larut bukan hanya mengancam keselamatan warga, tetapi juga memicu kerusakan lahan pertanian.
Tanaman pangan seperti padi, jagung, dan sayuran sangat rentan terhadap kelembapan berlebih.
Jika lahan tergenang, petani dapat mengalami gagal panen yang akhirnya berdampak pada Harga Pangan Terdampak La Niña.
Transportasi logistik juga terancam terganggu akibat cuaca ekstrem, terutama ketika jalur distribusi melintasi daerah rawan longsor atau banjir.
Mobilitas Nataru dan Potensi Dampaknya
Peringatan ini semakin relevan karena periode Natal dan Tahun Baru kerap ditandai dengan mobilitas masyarakat yang tinggi.
Ketika cuaca ekstrem bersinggungan dengan puncak pergerakan masyarakat, risiko gangguan distribusi pangan kian besar. Situasi tersebut berpotensi memperburuk kondisi Harga Pangan Terdampak La Niña jika tidak diantisipasi sejak awal.
Urgensi Mitigasi dan Sosialisasi Publik
Dengan potensi curah hujan tinggi yang terus meningkat, pemerintah daerah dinilai perlu memperkuat sosialisasi mitigasi kepada masyarakat serta memastikan infrastruktur pendukung tetap berfungsi optimal.
Edukasi mitigasi menghadapi La Niña menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas pasokan pangan.
Tanpa kesiapan maksimal, ancaman Harga Pangan Terdampak La Niña dapat meluas dan dirasakan langsung oleh masyarakat menengah ke bawah. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni