RADARTUBAN - Budaya global dan tren digital membawa arus deras perubahan.
Generasi muda kini berada pada pilihan, antara menjaga tradisi lama atau mengikuti arus modernitas yang biasa disebut perubahan.
Namun, di tengah dua pilihan tersebut, generasi muda justru memilih jalan ketiga, memaknai kembali tradisi dengan paduan dari gaya-gaya modern.
Contohnya saja, publikasi budaya melalui video, seperti Reog Ponorogo, Jaranan, Ludruk, dan kesenian tradisional lainnya dengan nuansa kekinian sehingga dapat memberikan edukasi lewat konten digital.
Anak muda mengikuti zaman, maka budaya pun harus diperbarui kemasannya.
Kita sebagai pelaku budaya dituntut untuk bisa mengemas budaya-budaya tersebut dengan nuansa-nuansa baru agar tetap lestari.
Bukan hanya seni pertunjukan yang perlu dikemas dengan nuansa baru, tetapi ada pula yang lainnya di dunia fashion, yakni batik.
Misalnya saja batik gedog Tuban dan motif batik lain yang kini mulai banyak diolah oleh desainer muda untuk dijadikan outfit-outfit kekinian.
Hasilnya, batik semakin diminati, bahkan dianggap keren oleh generasi muda saat ini.
Di sektor kuliner, modernisasi juga tak terlewatkan. Penjual makanan tradisional bisa menggunakan konsep-konsep modern seperti kafe.
Selain itu, konten kreator kuliner juga turut berperan dalam memperkenalkan kembali makanan tradisional kepada generasi muda.
Meskipun modernitas dapat membawa dampak baik, hal tersebut juga menjadi tantangan tersendiri. Banyak nilai tradisi yang perlahan terkikis, terutama pada generasi yang lebih akrab dengan budaya populer asing.
Menjadi sebuah tantangan baru di mana kita harus memiliki cara untuk memadukan dua hal ini tanpa menghilangkan jati diri kita.
Generasi muda adalah aset yang memiliki peluang besar untuk menjaga dan melestarikan budaya lokal.
Melalui generasi muda inilah akhirnya tradisi dan modernitas bisa dipadukan. Sehingga tidak lagi dianggap sebagai dua kutub yang berlawanan.
Tradisi memberikan identitas dan nilai yang luhur, sementara modernitas memberikan ruang kreatif yang lebih luas untuk berkembang.
Dengan adanya kreativitas anak muda, teknologi digital, dan meningkatnya kebanggaan terhadap budaya lokal, kita akan terus membuat kebaruan.
Dari tangan generasi muda, tradisi lama akan menemukan napas baru, ruang baru untuk tetap hidup, relevan, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni