RADARTUBAN – Perasaan bersalah yang kerap dialami ibu dalam menjalani peran pengasuhan, atau yang dikenal dengan istilah mom guilt, merupakan fenomena yang umum terjadi, terutama di kalangan ibu modern.
Menurut psikolog, dukungan dari suami dan keluarga memiliki peran penting dalam membantu ibu mengelola perasaan tersebut agar tidak berlarut dan berdampak pada kesehatan mental.
Mom Guilt, Perasaan Bersalah yang Sering Tak Disadari
Mom guilt muncul ketika seorang ibu merasa gagal menjalankan perannya, baik karena kekhawatiran terhadap kesehatan dan perkembangan anak, merasa kurang hadir secara emosional, hingga merasa tidak cukup baik akibat keterbatasan waktu dan tenaga.
Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga Farraas Afiefah Mahdiar menjelaskan bahwa kondisi ini tergolong wajar dan dialami banyak ibu, khususnya di tengah tuntutan pengasuhan yang semakin kompleks.
“Banyak ibu merasa bersalah karena membandingkan diri dengan standar ideal yang seringkali tidak realistis,” ujar Farraas.
Validasi Emosi Jadi Langkah Awal Penting
Menurut Farraas, langkah pertama yang sangat dibutuhkan ibu ketika mengalami mom guilt adalah validasi emosi. Keluarga, terutama suami, perlu mengakui bahwa perasaan tersebut normal dan tidak berlebihan.
Dengan validasi emosi, ibu tidak merasa sendirian atau dihakimi. Sebaliknya, ia merasa dipahami dan didukung, sehingga beban emosional dapat berkurang secara signifikan.
“Jangan langsung memberi solusi atau menyepelekan perasaan ibu, karena justru bisa memperparah rasa bersalah,” jelasnya.
Kesalahan Umum Suami Saat Menenangkan Ibu
Dalam praktiknya, suami sering kali tanpa sadar melakukan kesalahan saat mencoba menenangkan istri.
Contohnya, ketika ibu khawatir anak kurang berat badan, suami mengatakan, “Sudah, tidak usah terlalu dipikirkan.”
Menurut Farraas, respons seperti ini justru membuat ibu merasa kekhawatirannya tidak dianggap penting.
Pendekatan yang lebih tepat adalah dengan memvalidasi terlebih dahulu perasaan tersebut, misalnya dengan mengatakan, “Wajar kalau kamu khawatir soal perkembangan anak.”
Pentingnya Menghargai Proses, Bukan Hanya Hasil
Farraas juga menyoroti bahwa banyak ibu terjebak pada hasil akhir dalam pengasuhan, sehingga lupa menghargai proses panjang yang telah dilalui setiap hari.
Padahal, pengasuhan bukan sesuatu yang instan dan penuh dengan usaha kecil yang sering tak terlihat.
Apresiasi dari suami dan keluarga terhadap hal-hal sederhana, seperti kesabaran ibu, waktu yang dicurahkan, hingga upaya menjaga keseharian anak, dapat membantu ibu menyadari nilai dari perannya.
Dukungan Keluarga Jaga Kesehatan Mental Ibu
Dengan lingkungan yang suportif, mom guilt tidak berkembang menjadi tekanan berkepanjangan yang berpotensi memengaruhi kesejahteraan mental ibu.
Dukungan emosional yang konsisten diyakini mampu membantu ibu menjalani perannya dengan lebih tenang dan percaya diri.
Pendekatan ini, menurut psikolog, menjadi fondasi penting agar ibu tetap sehat secara mental sekaligus mampu memberikan pengasuhan terbaik bagi anak-anaknya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni