Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Tangani Darurat Limbah Nasional, Kolaborasi Masyarakat, Industri, dan Pemerintah Jadi Kunci Utama

Erlina Alfira Qurrotu Aini • Rabu, 17 Desember 2025 | 12:35 WIB

 

Ilustrasi sampah yang menggunung.
Ilustrasi sampah yang menggunung.

RADARTUBAN - Indonesia kini berdiri di persimpangan kritis, dihadapkan pada darurat sampah yang menumpuk di laut, sungai, dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Namun, di balik persoalan besar ini, tersembunyi peluang emas bagi bangsa untuk memimpin gerakan hijau di kawasan Asia.

Limbah yang kini menjadi masalah akut merupakan tanggung jawab bersama yang harus segera diatasi melalui kolaborasi, perubahan pola pikir, dan investasi teknologi ramah lingkungan.

Hal ini ditegaskan oleh Jerhemy Owen Wijaya, seorang konten kreator dan pemerhati lingkungan muda, dalam sebuah podcast yang diunggah di kanal YouTube Hermanto Tanoko (5/12).

Jerhemy menyampaikan bahwa meskipun kesadaran lingkungan di Indonesia mulai meningkat, besarnya persoalan sampah yang dihasilkan setiap hari masih jauh melampaui upaya yang dilakukan.

Sayangnya, masih banyak masyarakat yang menganggap sampah sebagai urusan pemerintah semata, bukan sebagai konsekuensi langsung dari gaya hidup yang mereka jalani.

Meskipun inisiatif positif seperti pilah sampah dari rumah dan penggunaan produk ramah lingkungan mulai bermunculan, tanpa perubahan yang lebih sistemik, upaya ini belum cukup untuk membalikkan keadaan.

Limbah di Indonesia adalah tanggung jawab kolektif yang melibatkan semua lapisan masyarakat:

1. Rumah Tangga: Bertanggung jawab sebagai sumber sampah harian terbesar.

2. Dunia Usaha/Industri: Wajib memikirkan desain produk, kemasan, dan proses produksi yang minim limbah.

3. Pemerintah: Harus menyediakan regulasi yang tegas, insentif, dan infrastruktur pengelolaan sampah yang memadai.

4. Konsumen (Masyarakat): Harus mengubah perilaku konsumsi dan pengelolaan sampah di tingkat individu.

“Ini bukan salah siapa, tapi tugas kita bersama,” jelas Jerhemy.

Jika dibiarkan, timbunan sampah tidak hanya merusak ekosistem laut, udara, dan kesehatan, tetapi juga menghambat pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Salah satu ancaman paling nyata adalah sampah plastik yang tidak terkelola, yang dapat kembali ke meja makan kita dalam bentuk mikroplastik, mengancam generasi mendatang.

Oleh karena itu, Jerhemy menekankan bahwa investasi lingkungan bukanlah biaya, melainkan modal jangka panjang demi masa depan bangsa yang sehat, produktif, dan berdaya saing.

Beberapa solusi yang didorong antara lain adalah perubahan pola konsumsi, pengurangan sampah langsung dari sumbernya, konsistensi dalam memilah sampah organik dan anorganik, serta mendukung bisnis yang menerapkan prinsip ekonomi sirkular.

Dunia industri harus berani berinvestasi pada teknologi pengolahan limbah dan sistem daur ulang yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

Masyarakat diajak untuk mengurangi plastik sekali pakai, membawa wadah sendiri, dan bergaya hidup hijau sebagai standar baru.

“Menjaga lingkungan bukan pekerjaan sampingan, ini adalah fondasi masa depan bangsa,” tutupnya sebagai pesan bahwa setiap orang memegang peran historis dalam menentukan kualitas lingkungan Indonesia di masa depan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#limbah #gerakan hijau #darurat sampah #Indonesia #Jerhemy Owen