RADARTUBAN - Banjir bandang dahsyat yang menerjang Sumatera Utara 2025 meninggalkan luka dalam bagi spesies orangutan Tapanuli, kera besar paling langka di dunia.
Populasi mereka yang hanya tersisa di bawah 800 ekor kini terancam punah akibat rusaknya habitat parah pada ekosistem Batang Toru.
Kerusakan ini bukan sekadar bencana alam, melainkan akibat deforestasi dan aktivitas perusahaan yang merusak hutan lindung.
Banjir besar memicu siklon Senyar menghancurkan wilayah Tapanuli Tengah, termasuk Sungai Garoga, pada 25 November 2025.
Tim relawan menemukan bangkai seekor orangutan betina remaja tersangkut di tumpukan kayu dan lumpur, korban pertama yang dikonfirmasi.
Ahli seperti Erik Meijaard memperkirakan 6-11 persen populasi hilang, setara 50 ekor, dengan citra satelit menunjukkan membentuk sayatan lebar hingga 100 meter di hutan pegunungan.
Ekosistem Batang Toru, rumah eksklusif orangutan Tapanuli sejak diakui sebagai spesies baru tahun 2017, kian rapuh akibat hilangnya hutan.
WALHI Sumut menuding kerusakan ini pemicu utama banjir, dengan laju deforestasi tinggi di zona risiko bencana kelas tinggi.
Menteri LH kini menghentikan operasi empat perusahaan yang diduga berkontribusi, meskipun reproduksinya lambat—orangutan bersarang setiap 6-9 tahun—membuat pemulihan populasi tidak mungkin cepat.
Para krisis menyebut banjir ini "gangguan tingkat kepunahan", di mana kematian di atas 1% saja bisa lenyapkan spesies.
Panut Hadisiswoyo dari Oranguatan Information Centre mengaku ciri khas korban: tubuh kurus, rambut kemerahan, dan ukuran kepala Tapanuli.
Pemerintah diminta tegas sanksi pidana dan ganti rugi, sambil mendorong kebijakan lindungi Batang Toru demi napas terakhir spesies langka. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama