Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Mi Instan Dinilai Kurang Tepat untuk Korban Bencana Sumatera, Ini Penjelasan Pakar

Alifah Nurlias Tanti • Kamis, 18 Desember 2025 | 19:35 WIB
Pakar Teknologi Pangan dari Swiss Greman University, Dr. Ir. Abdullah Muzi Marpaung, MP.
Pakar Teknologi Pangan dari Swiss Greman University, Dr. Ir. Abdullah Muzi Marpaung, MP.

RADARTUBAN- Mi instan adalah makanan darurat yang sering diberikan kepada korban bencana.

Pakar teknologi pangan Abdullah Muzi Marpaung dari Universitas Jerman Swiss mengungkapkan, mi instan sebenarnya kurang ideal untuk dikonsumsi dalam situasi darurat.

Terlebih ketika akses air bersih sangat terbatas seperti yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera.

Menurutnya, dalam situasi bencana seperti banjir yang terjadi di Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga Aceh para penyintas sering kesulitan mendapatkan air bersih.

Karena itu, makanan yang masih perlu dimasak, seperti mi instan, sering kali tidak lagi menjadi pilihan yang tepat.

Abdullah Muzi Marpaung menjelaskan bahwa dalam situasi bencana, akses terhadap air bersih sering kali menjadi tantangan besar.

Karena itu, makanan yang masih perlu dimasak tidak selalu cocok untuk para penyintas.

“Yang paling dibutuhkan justru makanan siap santap,” ujarnya dalam podcast Banyak Tanya di Jawa Pos TV, Rabu (17/12).

Dia menjelaskan bahwa kebutuhan pangan saat bencana memiliki standar tersendiri.

Selain harus aman untuk dikonsumsi, makanan darurat idealnya mengandung kalori tinggi agar bisa segera memberikan energi.

Makanan tersebut juga sebaiknya praktis mudah dimakan tanpa perlu proses memasak atau persiapan yang rumit.

Sayangnya, jenis makanan seperti itu belum banyak diperkenalkan secara luas kepada masyarakat.

Dia menjelaskan bahwa kurma mudah didistribusikan karena tidak membutuhkan proses memasak, sekaligus mampu memberikan energi yang cukup bagi tubuh.

Selai kacang, yang dikenal memiliki energi tinggi, dapat dikonsumsi dalam situasi darurat seperti kurma. Karena dianggap praktis dan tahan lama, mi instan sering menjadi pilihan utama untuk bantuan pangan saat ini.

Namun, dari perspektif teknologi pangan, Muzi melihat mi instan sebagai "jawaban termudah" daripada solusi yang benar-benar tepat.

Mi instan sering digunakan sebagai bantuan pangan karena dianggap praktis dan tahan lama.

Namun, dari sudut pandang teknologi pangan, Muzi percaya bahwa mi instan hanyalah "pilihan termudah" daripada opsi yang benar-benar memenuhi kebutuhan penyintas.

Sebaliknya, mi instan hanya mengandung karbohidrat dari pati dan sedikit protein dan serat. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#makanan darurat #bencana #Sumatra #mi instan