Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Orang Terkaya di Indonesia Ini Beli Es Dipinggir Jalan Dan Jadi Sopir Angkutan, Begini Kisahnya

M Robit Bilhaq • Minggu, 21 Desember 2025 | 22:10 WIB
Sri Sultan Hamengkubuwono IX
Sri Sultan Hamengkubuwono IX

RADARTUBAN - Sri Sultan Hamengkubuwana IX, adalah seseorang yang memegang takhta Yogyakarta sejak tahun 1940, beliau dikenal sebagai figur yang memilih jalan hidup bersahaja dan dekat dengan rakyat kecil, jumlah kekayaan yang dimilikinya sangat besar.

Walaupun jumlah pasti hartanya tidak pernah terungkap sepenuhnya.

Sejarah mencatatnya sebagai pribadi yang sangat dermawan dan tidak segan membagikan kekayaannya, yang bersumber dari warisan serta sistem feodalisme kerajaan.

Wujud kedermawan yang dimilikinya terlihat nyata pada masa awal kemerdekaan Indonesia.

Waktu itu Sri Sultan Hamengkubuwono IX menyerahkan bantuan besarnya 6,5 juta gulden kepada pemerintah pusat dan juga 5 juta gulden untuk membantu rakyat yang sedang dilanda kesengsaraan.

Jika jumlah gulden tersebut dikonversikan ke nilai mata uang saat ini, sumbangan yang diberikanya tersebut diperkirakan setara dengan rentang Rp 20 hingga 30 miliar.

Meski Sri Sultan hidupnya berada dalam posisi terhormat dan bergelimang harta, tidak pernah memamerkan kemewahannya, berbagai kesaksian sejarah merekam kebiasaan hidupnya yang sangat sederhana.

Salah satunya tertuang dalam buku Takhta untuk Rakyat: Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengkubuwono IX terbitan 1982, yang menceritakan kejadian pada tahun 1946 di sekitar Stasiun Klender, Jakarta.

Saat itu, di tengah cuaca yang sangat menyengat, Sultan lebih memilih untuk membeli es dari pedagang gerobak di pinggir jalan daripada singgah di restoran mewah, meskipun Sri Sultan sangat mampu untuk melakukannya.

Kisah lain yang sangat melegenda yaitu pada saat Sri Sultan secara tidak sengaja menjadi sopir truk bagi seorang penjual beras, peristiwa tersebut bermula saat Sri Sultan sedang mengendarai mobil Land Rover miliknya dari wilayah pedesaan menuju pusat kota.

Saat dalam perjalanan, Sri Sultan dihentikan oleh seorang perempuan yang ingin menumpang pergi ke pasar, diketahui orang tersebut adalah pedagang beras.

Tanpa mengetahui identitas asli pria di balik kemudi tersebut, si pedagang langsung meminta tolong untuk membantu menaikkan karung-karung berasnya ke dalam kendaraan.

Sebagaimana diceritakan dalam otobiografi Catatan Jenderal Pranoto Reksosamodra (2015), Sri Sultan menuruti permintaan tersebut tanpa keberatan dan mengangkat sendiri dua karung besar ke atas truknya.

Selama perjalanan, keduanya terlibat dalam obrolan santai layaknya orang biasa, tanpa si penjual menyadari bahwa dia sedang berbincang dengan penguasa tertinggi di Yogyakarta.

Setibanya di pasar, layaknya seorang sopir angkutan Sri Sultan kembali membantu menurunkan muatan tersebut.

Namun, ketegangan terjadi saat si penjual beras berusaha memberikan upah atas jasanya.

Sultan menolak uang tersebut dengan cara yang sopan, tetapi hal ini justru memicu kemarahan si pedagang, perempuan tersebut merasa tersinggung dan menganggap sang sopir bersikap sombong karena menolak uang yang nilainya mungkin dianggap terlalu kecil.

Sri Sultan segera berlalu tanpa memperpanjang perdebatan, sementara itu, si penjual beras masih terus menggerutu hingga akhirnya orang-orang di sekitar pasar memberitahunya bahwa pria yang baru saja ia marahi adalah Sri Sultan Hamengkubuwana IX.

Mendengar penjelasan dari orang sekitarnya tersebut, si pedagang sangat terkejut hingga jatuh pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit.

Kabar mengenai insiden pingsannya pedagang tersebut akhirnya sampai ke telinga Sultan, yang kemudian segera memacu kendaraannya menuju rumah sakit untuk menjenguk rakyatnya tersebut. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#kekayaan #Sri Sultan Hamengkubuwana #jogja #harta #mata uang