RADARTUBAN - Jumlah korban jiwa akibat dari adanya bencana banjir di wilayah Sumatera pada akhir November 2025 lalu hingga saat ini kembali dilaporkan mengalami kenaikan sebanyak 19 orang.
Dengan adanya penambahan tersebut, akumulasi seluruh korban yang dinyatakan meninggal dunia hingga hari Sabtu, (20/12), jumlahnya diangka 1.090 jiwa.
Berdasarkan data yang dipaparkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB, sebaran total korban meninggal tersebut terdiri dari 472 orang di Provinsi Aceh, 370 orang di Sumatra Utara, serta 248 orang di wilayah Sumatra Barat.
Dalam sebuah konferensi pers pada hari Sabtu Abdul Muhari selaku Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, menjelaskan bahwa penambahan 19 korban jiwa yang ditemukan hari ini membuat total angka kematian yang sebelumnya berjumlah 1.071 jiwa pada hari Jumat, (19/12), kini menjadi 1.090 jiwa.
Abdul Muhari juga memaparkan bahwa hingga saat ini operasi pencarian dan pertolongan terus dilakukan secara optimal di tengah berbagai keterbatasan, di mana pencarian difokuskan pada 6 kabupaten di Aceh, 4 sektor di Sumatera Utara, dan 5 sektor di Sumatra Barat.
Langkah pencarian ini terus dimaksimalkan demi menjamin bahwa tidak ada lagi jasad korban yang tertinggal di area pemukiman warga maupun kawasan yang terdampak bencana.
Selain itu, pihak berwenang juga sedang mengintensifkan proses identifikasi jenazah dengan tujuan agar data yang diperoleh benar-benar akurat.
Hal ini berkaitan erat dengan pemenuhan hak-hak bagi para ahli waris serta koordinasi mengenai penyediaan hunian tetap, hunian sementara, maupun fasilitas bantuan lainnya bagi keluarga terdampak.
Sementara itu, untuk jumlah warga yang hilang juga mengalami penambahan yaitu sebanyak satu orang.
Sehingga total korban hilang hingga hari Sabtu ini tercatat sebanyak 186 jiwa.
Di sisi lain, terdapat perkembangan positif mengenai jumlah pengungsi yang kini berkurang menjadi 510.528 orang dari angka sebelumnya yang mencapai 526.868 orang pada hari kemarin.
Penurunan jumlah pengungsi sebanyak 16 ribu orang tersebut dijelaskan terjadi karena sebagian masyarakat di daerah terdampak sudah mulai meninggalkan titik pengungsian untuk kembali ke rumah mereka guna membersihkan lingkungan masing-masing.
Namun, meskipun warga mulai balik kerumahnya masing masing untuk berbenah, kebutuhan pangan bagi mereka saat ini masih terus dipasok melalui dukungan dapur umum karena situasi dilokasi tersebut belum pulih sepenuhnya. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama