RADARTUBAN - Untuk merefleksikan jati diri sebagian besar orang adalah cara mereka berpakaian memang merupakan medium yang lazim digunakan.
Walaupun demikian, terdapat batasan tipis di mana gaya busana bukan lagi soal ekspresi, melainkan sebuah usaha keras demi memperoleh validasi dari lingkungan sekitar.
Penggunaan aksesori yang idealnya berfungsi sebagai pemanis penampilan, terkadang justru difungsikan menjadi sebuah sinyal status untuk menciptakan citra bahwa dirinya adalah seorang yang mapan atau memiliki kelas sosial tinggi.
Yang menjadi masalah adalah bukan pada benda atau aksesori yang dipakainya, tetapi pada motivasi dan niat di balik pemakaiannya.
Perbedaan antara seseorang yang bergaya karena kepercayaan diri yang tulus dengan mereka yang berpakaian karena rasa kurang percaya diri biasanya dapat dideteksi melalui detail-detail kecil yang sering kali dianggap remeh.
Dibawah ini adalah jenis jenis aksesori yang sering kali memberikan impresi bahwa seseorang sedang berusaha terlalu keras untuk terlihat kaya:
1. Ikat Pinggang dengan Logo Desainer yang Ukurannya Berlebihan
Ikat pinggang sejatinya bisa menjadi barang yang fungsional sekaligus menambah nilai estetika.
Namun, apabila ukuran ikat pinggang yang dipakai seseorang tersebut terlalu besar hingga logo merek tersebut menjadi fokus utama yang mendominasi, maka nilai estetikanya bergeser menjadi sekadar ajang pamer status.
2. Jam Tangan Mencolok yang Mendominasi Penampilan
Jam tangan adalah sebuah alat yang bisa jadi memiliki nilai sejarah yang mendalam atau sekadar alat bantu waktu.
Namun, dengan mengenakan jam tangan yang berukuran tidak semestinya, memiliki kilauan yang berlebihan, dan dipamerkan layaknya sebuah trofi cenderung menunjukkan keinginan untuk diperhatikan.
Padahal, bagi seseorang yang benar-benar memahami kualitas dan nilai sebuah jam biasanya akan memakainya dengan sikap yang tenang tanpa berharap mendapatkan pujian.
3. Penggunaan Kacamata Hitam di Situasi yang Tidak Relevan
Seringkali seseorang menggunakan kacamata hitam untuk meningkatkan gaya, tetapi memakai kacamata hitam di dalam ruangan, saat cuaca sedang hujan, atau di tengah malam justru terlihat janggal.
Bukannya memberikan kesan misterius, pemakainya justru tampak seperti sedang bersembunyi di balik sebuah kostum.
Sejatinya, kepercayaan diri yang asli bersifat terbuka dan tidak perlu ditutup-tutupi.
4. Aksesori Gadget Bermerek yang Sangat Mencolok
Di era sekarang ini sebagian orang memiliki cara baru untuk memamerkan status sosialnya.
Seperti menggunakan pelindung ponsel dengan motif monogram, wadah earbuds rancangan desainer, hingga tas laptop dengan logo besar.
Apabila barang-barang teknologi tersebut dibeli hanya agar orang lain menganggap kita kaya, meskipun tidak diucapkan secara langsung, nuansa ketegangan dari niat tersebut biasanya akan tetap terasa oleh orang di sekitar.
5. Pemakaian Gelang dan Bangle yang Bertumpuk secara Berlebihan
Perhiasan memang dapat menonjolkan sisi personal seseorang, tetapi penggunaan terlalu banyak gelang logam atau gelang bermerek secara bersamaan dalam jumlah banyak akan memberikan kesan visual yang terlalu ramai, bukannya terlihat gaya tanpa usaha.
Justru tumpukan tersebut seolah-olah menjadi pengumuman agar orang yang ada disekitarnya memperhatikan si pemakai.
6. Cincin yang Terlalu Besar dan Dramatis
Cincin dengan ukuran besar, batu yang sangat mencolok, atau desain yang dramatis bisa terlihat artistik jika memang selaras dengan kepribadian pemakainya.
Tetapi jika benda tersebut digunakan sebagai jalan pintas untuk terlihat kaya, yang terlihat malah justru dipaksakan, perhiasan seharusnya digunakan sebagai perpanjangan dari identitas diri, bukan sebuah properti panggung untuk bersandiwara.
7. Penggunaan Tas Imitasi atau Replika yang Sangat Terlihat
Karena adanya tekanan sosial atau hanya sekedar menyukai modelnya, banyak orang yang memilih untuk membeli barang tiruan.
Namun, mengenakan tas palsu yang kualitasnya jelas terlihat buruk sering kali memicu kecemasan karena takut rahasianya terbongkar.
Hal tersebut kemudian menyebabkan energi yang terpancar pun menjadi gelisah, bukan mapan, sebagai perbandingan, tas sederhana dari merek terjangkau yang dirawat dengan baik justru justru akan terlihat jauh lebih elegan.
8. Perhiasan yang Menjadi Simbol Kekuasaan secara Berlebihan
Rantai yang besar, ornamen berbentuk mahkota, atau perhiasan dominan lainnya sering kali didesain untuk menunjukkan sebuah kekuasaan.
Meski perhiasan emas memiliki makna tradisi, jika simbol tersebut dipakai untuk menunjukkan superioritas, maka tujuannya sudah berubah menjadi kompetisi sosial dan bukan lagi soal ekspresi seni.
9. Syal Desainer yang Dipakai Hanya Demi Memperlihatkan Label
Syal adalah aksesori yang klasik dan Indah, jika syal mewah dikenakan di saat cuaca panas atau di tempat yang tidak membutuhkannya.
Fungsi aslinya sebagai penghangat hilang dan hanya menyisakan fungsinya sebagai penanda status, seseorang yang memilih aksesori berdasarkan faktor kenyamanan dan kesenangan pribadi biasanya akan terlihat jauh lebih alami saat dikenakan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama