RADARTUBAN- Sebuah guncangan bumi akan terjadi pada awal tahun 2026. Kamis pagi (1/1) orang-orang di Sulawesi Utara dan Kepulauan Tanimbar, Maluku, merasakan dorongan yang sangat besar.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dua gempa beruntun terjadi, masing-masing dengan magnitudo 5,0 dan 5,6.
Getaran ini menjadi pengingat tentang seberapa indah alam dapat menjadi saat pergantian tahun.
Laporan BMKG menekankan betapa pentingnya untuk tetap waspada dan mengikuti informasi resmi agar masyarakat merasa lebih aman.
Bumi bergetar di Pulau Karatung, Sulawesi Utara, pagi itu. Sebuah gempa Magnitudo 5,0 tercatat pertama kali.
Belum sempat reda rasa cemas, tak lama kemudian guncangan yang lebih kuat kembali datang. Kali ini, Magnitudo 5,6 mengguncang perairan Tanimbar.
Meski guncangannya terasa cukup besar, masyarakat bisa sedikit lega. BMKG memastikan dua gempa bumi yang terjadi tidak menimbulkan potensi tsunami.
“Tidak berpotensi Tsunami,” tulis akun resmi @infobmkg di Instagram.
Setelah memberikan kepastian itu, BMKG juga memberikan informasi tentang lokasi dan kedalaman kedua gempa.Ini meningkatkan pemahaman publik tentang pusat gempa.
• Gempa pertama terjadi di Pulau Karatung di Sulawesi Utara, dengan magnitudo 5,0.
Pusat gempa berada di koordinat 4,99 LU dan 127,36 BT, sekitar 40 km timur laut Pulau Karatung, dan 96 km kedalaman.
• TGempa kedua yang lebih kuat terjadi di perairan barat laut Tanimbar tak lama kemudian.
Saat gempa terjadi pada pukul 10.05 WIB, BMKG mencatat magnitudo 5,6. Pusat gempa berada di 6,58 LS dan 130,03 BT, sekitar 209 km di barat laut Tanimbar.
Meskipun gempa bumi sudah mereda, BMKG mengingatkan bahwa gempa bumi dapat kembali terjadi, jadi warga harus tetap waspada dan mengikuti informasi resmi.
Hingga saat ini, belum ada laporan resmi tentang kerusakan bangunan atau korban jiwa yang disebabkan oleh dua guncangan tektonik tersebut. Masyarakat tentu merasa sedikit lega setelah mendengar kabar ini.
Secara ilmiah, gempa bumi bukanlah kejadian yang terjadi tanpa sebab. Getaran yang kita alami adalah bagian dari aktivitas alami kerak bumi.
Ini adalah proses alam yang terus berlangsung dan sesekali terjadi dalam kehidupan manusia.
Energi gempa bumi dapat dirasakan di permukaan karena menyebar dalam bentuk gelombang.
Oleh karena itu, masyarakat sering merasakan gempa meskipun pusat gempa jauh di bawah laut atau daratan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni