RADARTUBAN – Mi instan telah lama menjadi salah satu makanan favorit masyarakat di berbagai kalangan.
Selain mudah disiapkan, rasanya yang gurih serta harganya yang terjangkau membuat mi instan kerap dijadikan solusi praktis, terutama saat waktu dan kondisi ekonomi terbatas.
Namun di balik kepraktisan tersebut, para ahli medis memberikan peringatan serius terkait dampak kesehatan yang dapat muncul apabila mi instan dikonsumsi secara berlebihan, terlebih jika dijadikan sebagai menu makanan harian.
Baca Juga: Mi Instan Dinilai Kurang Tepat untuk Korban Bencana Sumatera, Ini Penjelasan Pakar
Pada dasarnya, mi instan bukanlah makanan yang sepenuhnya dilarang untuk dikonsumsi. Akan tetapi, tingkat risikonya meningkat secara signifikan ketika seseorang mulai bergantung pada mi instan sebagai sumber utama asupan harian.
Konsumsi yang terlalu sering dalam jangka panjang dinilai dapat memicu berbagai gangguan kesehatan yang tidak boleh dianggap sepele.
Dr. Manan Vora, seorang spesialis ortopedi asal Mumbai, India, menjelaskan bahwa mengonsumsi mi instan sesekali tidak akan langsung menimbulkan dampak buruk bagi tubuh.
Masalah baru akan muncul ketika makanan ini dikonsumsi secara rutin dan terus-menerus.
Baca Juga: Sering Dilakukan, Ternyata Makan Mi Instan Dicampur dengan Nasi Berbahaya, Berikut Penjelasannya
Menurutnya, efek negatif mi instan umumnya tidak terasa dalam waktu singkat, namun akan perlahan menumpuk dan berdampak serius pada kesehatan jangka panjang.
Dr. Vora mengklasifikasikan mi instan sebagai makanan ultra-proses, yakni jenis makanan yang telah melalui berbagai tahap pengolahan industri dan mengandung banyak bahan tambahan.
Salah satu zat yang menjadi sorotan adalah TBHQ (tert-Butylhydroquinone), yaitu bahan pengawet sintetis yang berfungsi memperpanjang masa simpan produk.
Jika zat ini masuk ke dalam tubuh secara berlebihan dan terus-menerus, dapat memicu stres oksidatif yang berpotensi merusak sel-sel tubuh.
Selain itu, kemasan mi instan berbentuk gelas atau cup juga dinilai menyimpan risiko tersendiri. Bahan polistirena yang digunakan pada kemasan tersebut dapat meluruhkan partikel mikroplastik saat terkena air panas bersuhu tinggi.
Dalam jangka panjang, paparan mikroplastik ini dikhawatirkan dapat memicu peradangan serta mengganggu kesehatan saluran pencernaan, khususnya usus.
Tak hanya itu, mi instan juga mengandung berbagai bahan tambahan lain seperti pewarna buatan, perisa sintetis, serta monosodium glutamat (MSG).
Kombinasi bahan-bahan ini menciptakan sensasi rasa gurih yang kuat dan adiktif, sehingga membuat seseorang cenderung makan dalam jumlah berlebih tanpa disadari. Kebiasaan ini berpotensi memperburuk pola makan dan meningkatkan risiko gangguan metabolisme.
Pandangan senada juga disampaikan oleh dr. Sungadi Santoso, praktisi kesehatan asal Surabaya yang akrab disapa dr. Sung.
Ia menegaskan bahwa mi instan yang telah memiliki izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) secara hukum dinyatakan aman untuk dikonsumsi. Namun, keamanan tersebut tetap bergantung pada frekuensi dan porsi konsumsi.
Dr. Sung menjelaskan bahwa dari sisi kandungan gizi, mi instan didominasi oleh karbohidrat dan lemak, sementara kandungan protein, vitamin, serta mineralnya sangat minim.
Jika mi instan dijadikan sebagai makanan utama setiap hari, tubuh berisiko mengalami defisiensi nutrisi atau kekurangan zat gizi penting yang dibutuhkan untuk menjaga fungsi organ dan daya tahan tubuh.
Selain itu, kandungan natrium atau garam yang sangat tinggi dalam bumbu mi instan menjadi faktor risiko utama. Konsumsi natrium berlebih dalam jangka panjang dapat meningkatkan tekanan darah, membebani kerja ginjal, serta memicu gangguan kardiovaskular.
Pada kondisi tertentu, kebiasaan ini juga dapat mempercepat munculnya penyakit metabolik seperti hipertensi dan gangguan jantung.
Para ahli sepakat bahwa mi instan masih dapat dikonsumsi sesekali sebagai makanan darurat atau pelengkap.
Namun, menjadikannya sebagai menu utama harian tanpa disertai asupan gizi seimbang seperti sayur, protein, dan sumber nutrisi lain adalah kebiasaan yang berisiko besar bagi kesehatan di masa depan.
Edukasi mengenai pola makan seimbang dinilai menjadi kunci penting untuk mencegah dampak buruk dari konsumsi mi instan yang berlebihan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni