RADARTUBAN - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim pihaknya akan mengambil alih pengelolaan Venezuela setelah sukses menangkap Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, dalam operasi militer di Caracas.
Pernyataan ini disampaikan Trump saat konferensi pers di Mar-a-Lago, Florida, pada Sabtu (3/1), untuk mencegah kekosongan kekuasaan di negara Amerika Latin tersebut.
Operasi penangkapan dilakukan pasukan elite Delta Force Angkatan Darat AS pada tengah malam waktu setempat, di mana Maduro dan Flores diduga sedang tidur di kediamannya.
Trump mengonfirmasi melalui Truth Social bahwa keduanya langsung diterbangkan keluar Venezuela, dengan tuduhan utama terkait perdagangan narkoba internasional.
Langit Caracas dilaporkan membara akibat serangan AS, yang menjadi klimaks tekanan panjang terhadap rezim Maduro.
Rencana Transisi
Trump menjanjikan transisi yang aman, dengan pejabat tinggi seperti Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth bertanggung jawab sementara.
Dia menegaskan tidak ingin campur tangan dengan kelompok lama, sambil membuka opsi penggunaan pasukan AS jika diperlukan.
Selain itu, rencana pembangunan kembali infrastruktur minyak Venezuela akan didanai perusahaan energi AS untuk stabilisasi ekonomi.
Meski detail waktu transisi belum jelas, Trump optimistis Venezuela akan kembali ke jalur benar di bawah pengawasan AS. Situasi ini memicu kekhawatiran global soal stabilitas kawasan, meskipun pemerintahan Trump menjamin tidak ada korban jiwa dari pihak militer AS. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama