RADARTUBAN - Jutaan warga di sepanjang DAS Brantas hadapi risiko banjir saat puncak musim hujan, seiring meningkatnya intensitas curah hujan tinggi yang diprediksi melanda sejumlah wilayah di Jawa Timur sepanjang Januari.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena DAS Brantas melintasi 19 kabupaten dan kota di Jawa Timur yang padat penduduk serta menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
Ancaman banjir Jawa Timur tidak hanya berdampak pada kawasan permukiman, tetapi juga mengancam lahan pertanian, infrastruktur publik, hingga jalur distribusi logistik yang vital bagi kebutuhan harian warga.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur melakukan koordinasi lintas instansi untuk memastikan kesiapan sistem pengendalian air menghadapi curah hujan tinggi yang berpotensi meningkatkan debit sungai secara signifikan.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah peninjauan terhadap kesiapan Balai Besar Wilayah Sungai Brantas yang bertanggung jawab atas pengelolaan DAS Brantas di wilayah Jawa Timur.
Wilayah DAS Brantas menjadi krusial karena aliran sungai ini melewati daerah hulu hingga hilir yang memiliki karakter geografis berbeda dan tingkat kerawanan banjir yang bervariasi.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyampaikan bahwa kondisi cuaca pada Januari tergolong rawan dan membutuhkan kewaspadaan ekstra dari seluruh pihak terkait.
“Seperti kita ketahui bersama, kondisi cuaca untuk bulan Januari memang rawan. Ibu Gubernur dan BMKG berkali-kali menyampaikan adanya kerawanan cuaca dengan curah hujan yang sangat-sangat tinggi,” kata Emil Elestianto Dardak.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa ancaman banjir Jawa Timur bukan sekadar prediksi, melainkan risiko nyata yang harus diantisipasi dengan langkah terukur.
Pemantauan dilakukan melalui dashboard Command Center BBWS Brantas untuk melihat kondisi bendungan, tanggul, dinding sungai, dan pos pantau yang tersebar di sepanjang DAS Brantas.
Keberadaan sistem pemantauan ini dinilai penting untuk memberikan data terkini terkait potensi luapan sungai akibat curah hujan tinggi yang terjadi secara terus-menerus.
Selain infrastruktur fisik, kesiapan sistem informasi tanggap bencana juga menjadi sorotan dalam upaya mitigasi banjir Jawa Timur.
BBWS Brantas diketahui memiliki Sistem Informasi Tanggap Bencana yang terhubung dengan Pusat Data dan Informasi Kementerian PUPR untuk memantau perkembangan situasi hidrologi.
Koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Timur diharapkan mampu mempercepat respons jika terjadi peningkatan debit air di DAS Brantas.
Langkah ini dinilai penting mengingat jutaan warga yang bermukim di bantaran sungai memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap banjir Jawa Timur.
Risiko tersebut semakin besar ketika curah hujan tinggi terjadi secara merata dari wilayah hulu hingga hilir sungai.
Selain faktor cuaca, kondisi lingkungan dan perubahan tata guna lahan juga mempengaruhi daya tampung sungai di kawasan DAS Brantas.
Pemerintah daerah di kabupaten dan kota yang dilintasi DAS Brantas juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan dan memperkuat sistem peringatan dini bagi masyarakat.
Informasi yang cepat dan akurat menjadi kunci untuk meminimalkan dampak banjir Jawa Timur terhadap keselamatan warga.
Upaya mitigasi ini diharapkan mampu melindungi jutaan warga dari risiko banjir yang kerap terjadi saat puncak musim hujan.
Dengan sinergi antarinstansi dan kesiapsiagaan masyarakat, ancaman banjir Jawa Timur akibat curah hujan tinggi di kawasan DAS Brantas dapat ditekan secara maksimal. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama