RADARTUBAN - Media sosial diramaikan unggahan teori unik bahwa setiap bayi pasti melewati fase wajah mirip Presiden Prabowo Subianto.
Fenomena ini muncul dari akun Instagram @undercover.id yang memposting rangkaian foto bayi dengan caption "cewe berteori setiap bayi pasti punya fase wajah mirip presiden Prabowo", memicu banjir komentar dan repost.
"Semoga kedepannya mirip Prabowo terus," tulis akun _masiqbal
"Presidenya kan kembali ke fase anak bayi," tulis akun vieavianty
"Kocak,,,,biasanya klo mirip anak kita dg orang lain, bundanya hater Prabowo," tulis akun protea_cirebon
"Karena pipi pak Prabowo tuh chubby ga sih jadi mirip banyak bayi? Wkwkw," tulis akun showondering
"Fix pak Prabowo Ayah negara, jd tolong pa makmurkan kami anak2 mu ini," tulis akun ajrinajevis
"Apakah setiap anak Indonesia berpotensi jadi presiden?," tulis akun AdityaPermana_almarusy
"Ada yg mirip Bahlil gak?," tulis akun wkdn_30
Teori tersebut pertama kali populer setelah seorang perempuan mengamatinya di Instagram, mengklaim semua bayi tampak seperti Prabowo saat memasuki tahap pertumbuhan tertentu.
Unggahan itu langsung mendapat ribuan like dan share, dengan netizen ramai berbagi foto anak mereka sendiri yang "relate".
Akun tersebut bahkan memperkuat klaim dari sumber lain, membuat tren ini menyebar luas di TikTok dan X.
Dokter spesialis anak dr. Aisya Fikritama Aditya Sp.A dari UNS Solo menegaskan, tidak ada dasar medis yang mendukung klaim tersebut.
“Secara medis, tidak ada fase tertentu yang membuat semua bayi mirip tokoh tertentu,” ujarnya
Menurut dr. Aisya, bayi dan balita umumnya mempunyai ciri-ciri seragam seperti pipi bulat, rahang belum jelas, serta proporsi wajah yang masih belum matang.
Keseragaman ini sering memicu asosiasi subjektif orang dewasa, sehingga bayi terlihat mirip satu sama lain atau bahkan figur publik.
Banyak warganet menyambut tren ini dengan candaan, seperti "Relate banget, anakku juga fase Pak Wowo" atau "Ini fenomena nasional".
Namun, sebagian lain meminta verifikasi medis agar tidak bermain golf, sejalan dengan penjelasan dokter. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni