RADARTUBAN - Pada 1950, Indonesia bukan siapa-siapa dalam peta demografi global.
Jumlah penduduknya 68,8 juta jiwa, menempatkan Indonesia di urutan ketujuh dunia—di bawah China, India, Amerika Serikat, hingga Jepang.
Dunia saat itu baru beranjak dari luka Perang Dunia II, dan populasi global masih di angka 2,49 miliar jiwa.
Tujuh puluh lima tahun berselang, peta itu jungkir balik. Tahun 2025, jumlah penduduk dunia melonjak lebih dari tiga kali lipat menjadi 8,23 miliar jiwa.
Indonesia kini berdiri kokoh di posisi keempat dunia dengan 285,7 juta penduduk, hanya di bawah India, China, dan Amerika Serikat. Bukan sekadar naik peringkat. Ini lompatan kelas.
Indonesia: Konsisten Naik, Bukan Sekadar Ikut Ramai
Perubahan posisi Indonesia bukan anomali sesaat. Sejak dekade 1970-an, pertumbuhan penduduk Indonesia relatif stabil dan terkendali dibanding sejumlah negara berkembang lain.
Bonus demografi, urbanisasi masif, dan penurunan angka kematian menjadi penopang utama.
Pada 1950, Indonesia masih berada di bawah Pakistan dan Jepang.
Tahun 2025, Indonesia menyalip Jepang yang justru mengalami kontraksi penduduk. Serta, menjauh dari negara-negara Eropa yang stagnan bahkan menyusut.
Indonesia tidak meledak secara liar, tetapi tumbuh konsisten.
Asia dan Afrika Mendominasi, Barat Melambat
Data Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan pusat gravitasi penduduk dunia bergeser tegas ke Asia dan Afrika.
India kini menjadi negara terpadat di dunia, menggeser China. Nigeria melonjak ke posisi enam besar, Ethiopia ke sepuluh besar, dan Republik Demokratik Kongo masuk 15 besar.
Sebaliknya, Eropa Barat tertahan. Inggris, Prancis, dan Italia tetap masuk 25 besar, namun posisinya turun drastis. Jerman—yang pada 1950 masih terpecah—kini hanya di peringkat 19.
Indonesia berada di tengah arus besar ini: Asia yang tumbuh, tetapi dengan struktur negara yang relatif stabil.
Baca Juga: Pemerintah Perkuat 196 Juta Penduduk Produktif untuk Wujudkan Indonesia sebagai Macan Asia
Peluang Besar, Tekanan Tak Kecil
Posisi empat besar dunia bukan trofi simbolik. Ini berarti pasar domestik raksasa, cadangan tenaga kerja besar, dan daya tawar geopolitik yang meningkat.
Namun bersamaan dengan itu, tekanannya juga brutal: pangan, energi, lapangan kerja, perumahan, dan kualitas sumber daya manusia.
Tanpa kebijakan yang tepat, jumlah besar bisa berubah menjadi beban besar.
Angka yang Bicara Keras
Dalam 75 tahun, Indonesia berpindah dari papan tengah ke elite demografi global. Ini bukan hasil satu kebijakan, bukan pula kebetulan sejarah.
Angka-angka ini bicara keras: Indonesia kini pemain utama dalam percaturan penduduk dunia.
Pertanyaannya bukan lagi seberapa besar Indonesia, tetapi seberapa siap Indonesia mengelola kebesarannya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni