RADARTUBAN - Bahlil Lahadalia, selaku Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menyampaikan pencapaian signifikan.
Pencapaian tersebut yaitu sepanjang tahun 2025, Indonesia mampu mengurangi volume impor bahan bakar minyak (BBM) kategori solar sebesar kurang lebih 3 juta ton.
Bahlil menegaskan bahwa kesuksesan tersebut merupakan hasil nyata dari implementasi kebijakan mandatori biodiesel B40 yang telah resmi diberlakukan sejak 2025 tanggal (1/1).
BBN atau bahan bakar nabati jenis B40 adalah campuran bahan bakar yang terdiri dari 40 persen minyak kelapa sawit dan 60 persen solar murni.
Sejak awal direncanakan, orientasi utama dari kebijakan ini adalah untuk meminimalkan ketergantungan energi nasional terhadap pasokan solar yang didatangkan dari luar negeri.
Dalam sesi konferensi pers Kementerian ESDM yang berlangsung di Jakarta, Bahlil mengungkapkan rasa syukurnya atas tren penurunan tersebut.
Bahlil memberikan perbandingan data di mana pada tahun 2024, angka impor solar Indonesia masih berada di kisaran 8,3 juta ton.
Namun, berkat berjalannya program biodiesel B40, angka tersebut mengalami penurunan tajam menjadi hanya sekitar 5 juta ton pada tahun 2025.
Baginya, pencapaian tersebut adalah pijakan krusial bagi pemerintah untuk mempercepat perwujudan kedaulatan energi di tanah air.
Selain kontribusi dari sektor biodiesel, upaya menekan impor solar juga akan didukung oleh pengoperasian proyek pengembangan kilang minyak (Refinery Development Master Plan/RDMP) yang berlokasi di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Penyelesaian proyek modifikasi kilang ini diproyeksikan bakal mendongkrak kemampuan pengolahan minyak mentah di dalam negeri secara masif.
Lebih lanjut, Bahlil menambahkan bahwa jika peningkatan campuran menjadi B50 berhasil dilaksanakan dan proyek RDMP di Kalimantan Timur diresmikan dalam waktu dekat sesuai rencana, Indonesia berpotensi besar untuk sepenuhnya menghentikan impor solar pada tahun 2026 mendatang.
Melihat data dari kementerian terkait, penggunaan biodiesel di pasar domestik selama periode Januari hingga Desember 2025 tercatat menyentuh angka 14,2 juta kiloliter (kL).
Pencapaian ini nyatanya melampaui ekspektasi awal, di mana target pemanfaatan biodiesel tahun 2025 sebenarnya dipatok pada angka 13,5 juta kL.
Ditinjau dari perspektif finansial, kebijakan biodiesel sepanjang tahun 2025 telah memberikan kontribusi ekonomi yang sangat besar bagi negara.
Hal ini dibuktikan dengan kemampuan menghemat devisa negara hingga mencapai Rp130,21 triliun.
Tidak hanya itu, kebijakan ini juga berhasil memberikan nilai tambah pada komoditas minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dengan total nilai sebesar Rp20,43 triliun. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama