RADARTUBAN - Pada akhir Desember 2025, Iran mulai dilanda krisis ekonomi yang makin memburuk.
Nilai mata uang rial Iran jatuh ke rekor terendah sepanjang sejarah modern, mencapai lebih dari 1,4 juta rial per 1 USD, sebagai akibat dari tekanan sanksi internasional, inflasi tinggi, dan kebijakan moneter yang gagal menstabilkan ekonomi negara.
Penurunan nilai rial yang parah ini membuat daya beli masyarakat Iran anjlok dan harga barang kebutuhan pokok melonjak tajam.
Banyak pedagang di Teheran dan kota lainnya mulai merasa tertekan secara ekonomis, dan pada 29 Desember 2025, protes besar pertama pecah di Teheran’s Grand Bazaar ketika para pedagang menutup toko mereka sebagai bentuk protes terhadap lonjakan harga dan inflasi.
Protes tersebut dengan cepat menyebar ke wilayah lain di Iran dan menjadi gelombang demonstrasi nasional.
Pada awal Januari 2026, ribuan warga turun ke jalan di lebih dari 20 provinsi, tak hanya menuntut perbaikan ekonomi, tetapi juga mengkritik pemerintahan Iran secara lebih luas.
Reaksi pemerintah terhadap aksi ini cenderung keras. Aparat keamanan menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa, dan banyak demonstran ditangkap atau terluka.
Selama protes yang berlangsung lebih dari seminggu, ratusan hingga lebih dari 1.000 orang ditangkap dan sejumlah korban tewas dilaporkan akibat bentrokan dengan aparat keamanan.
Penyebab utama krisis ini adalah depresiasi brutal nilai rial yang membuat tabungan warga kehilangan nilai, ditambah tingginya inflasi yang terus menekan ekonomi rumah tangga.
Dalam beberapa laporan, inflasi di Iran diperkirakan mencapai puluhan persen, dan harga barang kebutuhan sehari-hari melonjak secara drastis.
Hingga awal Januari 2026, Pemerintah Iran berupaya meredam kemarahan publik lewat berbagai langkah termasuk reformasi subsidi mata uang, namun hal ini belum mampu menghentikan protes yang kini melibatkan kalangan lebih luas seperti mahasiswa dan pekerja.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni