RADARTUBAN - Tahi lalat di sekitar mulut kerap dipercaya menandakan watak cerewet seseorang dalam berbagai kepercayaan yang hidup di tengah masyarakat Indonesia.
Anggapan soal tahi lalat di sekitar mulut ini sering muncul dalam obrolan sehari-hari dan diwariskan secara turun-temurun.
Namun, benarkah posisi tahi lalat tersebut dapat mencerminkan kepribadian, khususnya watak cerewet, ataukah hanya mitos budaya semata.
Isu mengenai tahi lalat di sekitar mulut perlu dilihat secara berimbang antara kepercayaan tradisional dan pandangan ilmiah modern.
Pandangan Primbon Jawa tentang Tahi Lalat
Dalam kepercayaan Jawa, Primbon Jawa dikenal sebagai rujukan untuk membaca tanda-tanda fisik yang dikaitkan dengan karakter seseorang.
Primbon Jawa menafsirkan letak tahi lalat sebagai simbol sifat, rezeki, hingga perjalanan hidup manusia.
Tahi lalat yang berada di sekitar mulut dalam Primbon Jawa sering diartikan sebagai tanda kepandaian berbicara.
Sifat pandai berbicara tersebut kemudian diasosiasikan masyarakat sebagai watak cerewet, baik dalam makna positif maupun negatif.
Namun, penafsiran dalam Primbon Jawa tidak bersifat tunggal dan bisa berbeda antar naskah dan daerah.
Makna Tahi Lalat dalam Tradisi Tiongkok
Selain Primbon Jawa, kepercayaan serupa juga ditemukan dalam tradisi Tiongkok melalui ilmu pembacaan wajah atau Mian Xiang.
Dalam tradisi Tiongkok, area mulut dikaitkan dengan komunikasi, rezeki, dan kemampuan sosial.
Tahi lalat di sekitar mulut menurut tradisi Tiongkok sering dimaknai sebagai tanda kepiawaian berdagang dan berbicara.
Kemampuan berbicara yang kuat tersebut lalu dianggap berkaitan dengan watak cerewet oleh masyarakat awam.
Meski begitu, penafsiran dalam tradisi Tiongkok juga bersifat simbolik dan kontekstual.
Baca Juga: Doa Paling Mustajab 2025: 9 Weton Pembawa Keberuntungan Menurut Primbon Jawa
Pandangan Ilmiah tentang Fisiognomi
Dalam dunia akademik, hubungan antara ciri fisik dan kepribadian dikenal dengan istilah fisiognomi.
Encyclopaedia Britannica menjelaskan, “Physiognomy is the study of the assessment of a person’s character or personality from their outer appearance,” yang dapat diterjemahkan sebagai, fisiognomi adalah studi untuk menilai karakter seseorang berdasarkan penampilan luar.
Namun, Britannica menegaskan bahwa fisiognomi tidak diakui sebagai ilmu psikologi modern yang valid.
Ilmu kedokteran menyebut tahi lalat hanyalah akumulasi pigmen kulit yang tidak berkaitan dengan sifat atau watak cerewet.
Psikologi modern menilai kepribadian dibentuk oleh lingkungan, pengalaman hidup, dan faktor genetik, bukan letak tahi lalat.
Kepercayaan tentang tahi lalat di sekitar mulut sebagai penanda watak cerewet lebih tepat dipahami sebagai warisan budaya.
Baik Primbon Jawa maupun tradisi Tiongkok menyajikan tafsir simbolik, bukan fakta ilmiah.
Masyarakat diimbau untuk menghormati kepercayaan tradisional tanpa menjadikannya dasar menilai seseorang.
Pendekatan kritis dan berimbang penting agar informasi tidak disalahartikan atau menimbulkan stigma. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni