RADARTUBAN- Alarm banjir rusak menjadi persoalan serius bagi warga Desa Tapen, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, di tengah cuaca ekstrem yang masih melanda wilayah Jawa Timur.
Kerusakan sistem peringatan dini ini terjadi setelah material pohon dan bambu terbawa arus deras Sungai Marmoyo dan menghantam perangkat Early Warning System atau EWS banjir yang terpasang di wilayah tersebut.
Kondisi ini membuat fungsi deteksi dini banjir tidak berjalan optimal pada saat masyarakat justru membutuhkan informasi cepat dan akurat.
Tanpa alarm banjir rusak yang berfungsi, warga kini mengandalkan pengamatan visual, intuisi, serta informasi manual dari lingkungan sekitar.
Situasi tersebut memperlihatkan betapa krusialnya peran EWS banjir dalam mendukung keselamatan masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana.
EWS Banjir Rusak Dihantam Material Sungai
Peralatan EWS banjir di Desa Tapen diketahui mengalami kerusakan setelah diterjang material kayu dan bambu yang terbawa arus Sungai Marmoyo pada Minggu (11/1)
Laporan kerusakan itu segera ditindaklanjuti oleh BPBD Jatim bersama Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Jombang dengan melakukan peninjauan langsung ke lokasi.
Ketua Tim Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jatim, Dadang Iqwandy, menjelaskan kondisi EWS banjir yang terdampak cukup parah.
“EWS-nya tersapu material banjir dan tumpukan pohon. Sensornya juga kena terjang material bambu,” terang Dadang Iqwandy.
Kerusakan ini membuat alarm banjir rusak tidak dapat memberikan sinyal peringatan secara maksimal kepada warga sekitar.
Sungai Marmoyo Berstatus Awas
BPBD Jatim mencatat bahwa sebelum kerusakan terjadi, EWS banjir di wilayah Sungai Marmoyo telah menunjukkan peningkatan status kewaspadaan.
Pantauan melalui dashboard BPBD Jatim memperlihatkan sinyal awas sejak akhir pekan lalu.
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jatim, Deni Kiki Melia Tamara, menyebut kondisi tersebut menjadi perhatian serius pihaknya.
“Kita akan segera lakukan perbaikan. Karena, dari pantauan dashboard kami, sejak akhir pekan lalu, pantauan EWS Banjir di lokasi ini memang telah menunjukkan sinyal status awas,” ujar Deni Kiki Melia Tamara.
Pernyataan ini menegaskan bahwa kerusakan alarm banjir rusak terjadi pada momentum yang sangat krusial.
Warga Andalkan Informasi Manual
Dengan EWS banjir yang tidak berfungsi optimal, warga di sekitar Sungai Marmoyo harus meningkatkan kewaspadaan secara mandiri.
Informasi dari mulut ke mulut, pantauan ketinggian air sungai, serta koordinasi antarwarga menjadi andalan utama.
Kondisi ini memperlihatkan keterbatasan sistem jika teknologi kebencanaan tidak didukung perlindungan infrastruktur yang memadai.
Alarm banjir rusak juga berpotensi memperlambat proses evakuasi jika terjadi banjir susulan secara tiba-tiba.
Penanganan BPBD Jatim
BPBD Jatim bersama TRC BPBD Kabupaten Jombang saat itu langsung melakukan pembersihan material kayu dan pohon di sekitar lokasi EWS banjir.
Proses pembersihan dilakukan menggunakan perahu karet untuk memastikan area sekitar Sungai Marmoyo kembali aman.
Langkah ini dilakukan sebagai penanganan awal sebelum perbaikan permanen terhadap alarm banjir rusak dilakukan.
BPBD Jatim memastikan perbaikan EWS banjir akan segera dilaksanakan demi mengembalikan fungsi peringatan dini bagi warga.
Keberadaan sistem peringatan dini dinilai sangat penting mengingat cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi dalam beberapa waktu ke depan.
Evaluasi Sistem Peringatan Dini
Peristiwa alarm banjir rusak ini menjadi pengingat bahwa mitigasi bencana tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga kesiapsiagaan masyarakat.
EWS banjir perlu didukung dengan perlindungan fisik yang memadai agar mampu bertahan dari tekanan material saat debit Sungai Marmoyo meningkat.
BPBD Jatim menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kesiapan kebencanaan berbasis teknologi dan partisipasi warga.
Kombinasi sistem yang andal dan kesadaran masyarakat diharapkan mampu meminimalkan risiko korban saat bencana terjadi.
Dalam kondisi darurat, keselamatan warga tetap menjadi prioritas utama di tengah tantangan alam yang semakin tidak menentu. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni