Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Afni Wahyuni Sesalkan Wacana SPPG Diangkat PPPK: Bukan Iri, Tapi Ini Tidak Adil bagi Guru

Alifah Nurlias Tanti • Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:39 WIB
Sejumlah petugas SPPG di Kota Depok menyajikan menu MBG.
Sejumlah petugas SPPG di Kota Depok menyajikan menu MBG.

RADARTUBAN - Afni Wahyuni, seorang guru ASN dari Riau, mengungkapkan kekecewaannya atas wacana pengangkatan petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis.

Baginya, kebijakan itu terasa timpang jika dibandingkan dengan nasib para guru honorer yang sudah puluhan tahun menunggu kepastian status kepegawaian, namun masih belum jelas ujungnya.

Afni merasa pemerintah belum adil terhadap para guru. Ia bertanya-tanya, mengapa negara seolah enggan memperjuangkan kesejahteraan mereka yang setiap hari mendidik generasi bangsa.

Afni Wahyuni mengungkapkan keresahannya lewat Instagram. Ia menilai gaji pegawai SPPG jauh lebih besar dibandingkan guru honorer. “Bukan soal iri,” tegasnya, “tapi ini jelas bentuk ketidakadilan.”

Afni melontarkan pertanyaan yang menohok: jika negara mampu menyejahterakan pegawai SPPG, mengapa kesejahteraan guru masih diabaikan? Baginya, itulah pertanyaan besar yang belum terjawab.

Afni menyesalkan sikap pemerintah yang terus menekan anggaran pendidikan.

Ia merasa narasi bahwa guru harus selalu ikhlas mengajar tanpa memikirkan kesejahteraan seolah dianggap hal yang wajar, padahal kenyataannya justru menyakitkan bagi para pendidik.

Afni mengungkapkan keresahannya. Menurutnya, guru sering “dicekoki” dengan tuntutan untuk selalu ikhlas, rela mengajar, dan tidak boleh memikirkan soal finansial. Padahal, ia menilai hal itu justru membuat guru semakin terpinggirkan.

Afni menilai sebenarnya negara mampu menyejahterakan guru. Namun yang terjadi, narasi yang dibangun justru menekankan bahwa guru harus bekerja dengan ikhlas, seolah kesejahteraan bukan hal penting.

Afni menyoroti narasi yang kerap dibebankan kepada guru: kalau memikirkan uang, dianggap tidak berkah; guru harus ikhlas, harus beramal, dan balasannya nanti surga.

“Padahal negara sebenarnya mampu menyejahterakan guru, hanya saja tidak mau,” tegasnya.

Afni mengkritik kebijakan pemerintah yang dinilai lebih berpihak pada pegawai SPPG.

Ia menegaskan, ini bukan soal iri, melainkan pertanyaan besar: mengapa negara tidak bisa menyejahterakan guru?

Afni kemudian menyinggung pernyataan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, yang menyebut gaji guru seharusnya bisa ditingkatkan.

Dari pernyataan itu, Afni menilai negara sebenarnya mampu menyejahterakan guru, hanya saja tidak memiliki kemauan.

Afni menyinggung pernyataan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa yang pernah mengatakan gaji guru seharusnya bisa mencapai Rp 30–40 juta.

Baginya, ucapan itu menunjukkan bahwa negara sebenarnya mampu menyejahterakan guru. Namun yang membuatnya kecewa, kemampuan itu tidak diiringi dengan kemauan.

“Kita mampu, tapi kita tidak mau,” sesalnya.

Afni kembali menyuarakan kekecewaannya. Ia menilai kebijakan pemerintah masih jauh dari berpihak pada dunia pendidikan.

Baginya, pendidikan seharusnya menjadi program prioritas, terutama dalam memperjuangkan nasib guru honorer yang sudah lama menanti kepastian. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#pppk #SPPG #Makan Bergizi Gratis #Guru ASN #gaji