Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kenapa Menjadi Pendengar Lebih Sulit daripada Memberi Nasihat? Ini Alasannya

M. Afiqul Adib • Minggu, 18 Januari 2026 | 07:15 WIB
Kita harus selalu belajar menjadi Pendengar yang baik
Kita harus selalu belajar menjadi Pendengar yang baik

RADARTUBAN - Dalam interaksi sehari-hari, kita sering merasa lebih mudah memberi nasihat daripada sekadar mendengarkan.

Padahal, menjadi pendengar yang baik justru membutuhkan kesabaran, empati, dan kemampuan menahan diri.

Artikel ini membahas mengapa mendengarkan lebih sulit daripada memberi nasihat, serta bagaimana peran pendengar bisa menjadi kunci dalam membangun hubungan yang sehat.

Kebiasaan Memberi Nasihat

Ketika seseorang bercerita tentang masalahnya, refleks pertama kita biasanya adalah memberi nasihat. Kita merasa perlu menawarkan solusi, seolah-olah itu bentuk kepedulian.

Namun, sering kali nasihat yang diberikan tidak benar-benar membantu, karena yang dibutuhkan bukan solusi instan, melainkan ruang untuk didengar.

Memberi nasihat memang terasa lebih mudah: cukup mengeluarkan kata-kata, tanpa harus benar-benar memahami perasaan orang lain.

Mendengarkan Membutuhkan Kesabaran

Menjadi pendengar yang baik berarti memberi ruang bagi orang lain untuk mengekspresikan diri. Ini membutuhkan kesabaran, karena kita harus menahan diri untuk tidak langsung menyela atau menghakimi.

Mendengarkan bukan hanya soal diam, tetapi juga soal hadir penuh dalam percakapan.

Kita perlu fokus, memperhatikan bahasa tubuh, dan menangkap emosi di balik kata-kata. Semua itu jauh lebih sulit daripada sekadar melontarkan nasihat.

Empati sebagai Kunci

Mendengarkan dengan baik membutuhkan empati. Empati berarti berusaha memahami perasaan orang lain dari sudut pandangnya, bukan dari sudut pandang kita.

Ini menuntut kerendahan hati, karena kita harus menyingkirkan ego dan keinginan untuk terlihat pintar.

Dengan empati, kita bisa memberi rasa aman bagi orang yang bercerita, sehingga mereka merasa dihargai dan diterima.

Mengapa Mendengarkan Lebih Sulit

Memberi nasihat sering kali membuat kita merasa berperan aktif, sementara mendengarkan terasa pasif. Padahal, justru dalam mendengarkan ada kerja batin yang lebih berat: menahan diri, mengendalikan pikiran, dan membuka hati.

Mendengarkan menuntut kita untuk hadir sepenuhnya, tanpa tergoda untuk mengalihkan perhatian. Itulah sebabnya mendengarkan sering kali lebih sulit daripada memberi nasihat.

Baca Juga: Ramai Disorot, Erika Carlina Jelaskan Kontroversi Nasihat Orang Tua yang Singgung Sosok Bunda Maria

Pentingnya Menjadi Pendengar

Dalam hubungan sosial, menjadi pendengar yang baik adalah aset berharga. Teman, keluarga, atau rekan kerja sering kali hanya butuh didengar, bukan dinasihati.

Dengan mendengarkan, kita membangun kepercayaan, memperkuat ikatan, dan memberi dukungan emosional yang nyata. Kadang, kehadiran yang tulus lebih berarti daripada seribu nasihat.

Menjadi pendengar itu lebih sulit daripada memberi nasihat, karena ia menuntut kesabaran, empati, dan kehadiran penuh. Namun, justru di situlah letak kekuatannya.

Dengan mendengarkan, kita tidak hanya membantu orang lain merasa lega, tetapi juga belajar menjadi manusia yang lebih bijak. Pada akhirnya, dunia tidak selalu membutuhkan lebih banyak nasihat, tetapi lebih banyak telinga yang mau mendengar dengan tulus.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#memberi nasihat #empati #Mendengarkan